<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ILoveAllaah.com Indonesian Version</title>
	<atom:link href="http://indonesian.iloveallaah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesian.iloveallaah.com</link>
	<description>Sumber Data Otentik Keseluruhan Material Islami dalam Bahasa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Feb 2012 09:59:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Lalai untuk Belajar Islam</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/lalai-untuk-belajar-islam/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/lalai-untuk-belajar-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 09:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petunjuk dan Saran]]></category>
		<category><![CDATA[belajar islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[lalai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda untuk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/lalai-untuk-belajar-islam/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</em></p>
<p><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/colors_of_islam_by_abdelghany-Copy.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1000" title="colors_of_islam_by_abdelghany - Copy" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/colors_of_islam_by_abdelghany-Copy-300x230.jpg" alt="" width="300" height="230" /></a>Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda untuk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di tempat les sore hari, kegiatan belajar Al Qur’an pun dilalaikan. Lihatlah tidak sedikit dari generasi muda saat ini yang tidak bisa baca Qur’an, bahkan ada yang sampai buku Iqro’ pun tidak tahu.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Merenungkan Ayat</strong></span></p>
<p>Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ</p>
<p><strong>“<em>Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai</em>.”</strong> (QS. Ar Ruum: 7)</p>
<p>Ath Thobari <em>rahimahullah</em> menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)</p>
<p>Fakhruddin Ar Rozi <em>rahimahullah</em> menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)</p>
<p>Penulis Al Jalalain <em>rahimahumallah</em> menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian,  pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)</p>
<p>Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi <em>hafizhohullah</em> menjelaskan ayat di atas, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)</p>
<p>Lalu Syaikh Abu Bakr Al Jazairi mengambil faedah dari ayat tersebut, “Kebanyakan manusia tidak mengetahui hal-hal yang akan membahagiakan mereka di akhirat. Mereka pun tidak mengetahui aqidah yang benar, syari’at yang membawa rahmat. Padahal Islam seseorang tidak akan sempurna dan tidak akan mencapai bahagia kecuali dengan mengetahui hal-hal tersebut. Kebanyakan manusia mengetahui dunia secara lahiriyah seperti mencari penghidupan dari bercocok tanam, industri dan perdagangan. Namun bagaimanakah pengetahuan mereka terhadap dunia yang batin atau tidak tampak, mereka tidak mengetahui. Sebagaimana pula mereka benar-benar lalai dari kehidupan akhirat. Mereka tidak membahas apa saja yang dapat membahagiakan dan mencelakakan mereka kelak di akhirat. Kita berlindung pada Allah dari kelalaian semacam ini yang membuat kita lupa akan negeri yang kekal abadi di mana di sana ditentukan siapakah yang bahagia dan akan sengsara.” (Aysarut Tafasir, 4/125)</p>
<p>Itulah gambaran dalam ayat yang awalnya menerangkan mengenai kondisi orang kafir. Namun keadaan semacam ini pun menjangkiti kaum muslimin. Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Sebagian anak ada yang tidak tahu wudhu dan shalat karena terlalu diberi porsi lebih pada ilmu dunia sehingga lalai akan agamanya. Sungguh keadaan yang menyedihkan.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Bahaya Jahil akan Ilmu Agama</strong></span></p>
<p>Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. Begitu pula jika seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.</p>
<p>Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Ingin melaksanakan shalat, harus dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun dalam dunia bisnis, harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ</p>
<p><strong>"Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu"</strong> (QS. Muhammad: 19).</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘<em>ilmuilah</em>’ lalu mengatakan ‘<em>mohonlah ampun</em>’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘<em>mohonlah ampun</em>’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.</p>
<p>Sufyan bin ‘Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam <em>Al Hilyah</em> ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “<em>Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?</em>” (<em>Fathul Bari</em>, Ibnu Hajar, 1/108)</p>
<p>Al Muhallab <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)</p>
<p>Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan membuat-buat ibadah tanpa tuntunan atau amalannya jadi tidak sah. Jika seseorang tidak paham shalat, lalu ia mengarang-ngarang tata cara ibadahnya, tentu ibadahnya jadi sia-sia. Begitu pula mengarang-ngarang bahwa di malam Jumat Kliwon dianjurkan baca surat Yasin, padahal nyatanya tidak ada dasar dari Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka amalan tersebut juga sia-sia belaka. Begitu pula jika seseorang berdagang tanpa mau mempelajari fiqih berdagang terlebih dahulu. Ia pun mengutangkan kepada pembeli lalu utangan tersebut diminta diganti lebih (alias ada bunga). Karena kejahilan dirinya dan malas belajar agama, ia tidak tahu kalau telah terjerumus dalam transaksi riba. Maka berilmulah terlebih dahulu sebelum  beramal. Mu’adz bin Jabal berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ</p>
<p><strong>"<em>Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.</em>"</strong> (<em>Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, </em>hal. 15)</p>
<p>Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut jauh dari tuntunan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, akhirnya amalan itu jadi sia-sia dan tertolak. Nabi <em>shallAllahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p><strong>“<em>Barang</em><em>siapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.</em>”</strong> (HR. Muslim no. 1718)</p>
<p>Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan maslahat yang akan dihasilkan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ</p>
<p><strong>"<em>Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan</em>."</strong>  (<em>Al Amru bil Ma'ruf, </em>hal. 15)</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Beri Porsi yang Adil</strong></span></p>
<p>Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari ilmu dunia. Dalam satu kondisi mempelajari ilmu dunia bisa menjadi wajib jika memang belum mencukupi orang yang <em>capable</em> dalam ilmu tersebut. Misalnya di suatu desa belum ada dokter padahal sangat urgent sehingga masyarakat bisa mudah berobat. Maka masih ada kewajiban bagi sebagian orang di desa tersebut untuk mempelajari ilmu kedokteran sehingga terpenuhilah kebutuhan masyarakat.</p>
<p>Namun yang perlu diperhatikan di sini bahwa sebagian orang tua hanya memperhatikan sisi dunia saja apalagi jika melihat anaknya memiliki kecerdasan dan kejeniusan. Orang tua lebih senang menyekolahkan anaknya sampai jenjang S2 dan S3, menjadi pakar polimer, dokter, dan bidan, namun sisi agama anaknya tidak ortu perhatikan. Mereka lebih pakar menghitung, namun bagaimanakah mengerti masalah ibadah yang akan mereka jalani sehari-hari, mereka tidak paham. Untuk mengerti bahwa menggantungkan jimat dalam rangka melariskan dagangan atau menghindarkan rumah dari bahaya, mereka tidak tahu kalau itu syirik. Inilah yang sangat disayangkan. Ada porsi wajib yang harus seorang anak tahu karena jika ia tidak mengetahuinya, ia bisa meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. Inilah yang dinamakan dengan ilmu wajib yang harus dipelajari setiap muslim. Walaupun anak itu menjadi seorang dokter atau seorang insinyur, ia harus paham bagaimanakah mentauhidkan Allah, bagaimana tata cara wudhu, tata cara shalat yang mesti ia jalani dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mesti setiap anak kelak menjadi ustadz. Jika memang anak itu cerdas dan tertarik mempelajari seluk beluk fiqih Islam, sangat baik  baik sekali jika ortu mengerahkan si anak ke sana. Karena mempelajari Islam juga butuh orang-orang yang ber-IQ tinggi dan cerdas sebagaimana keadaan ulama dahulu seperti Imam Asy Syafi’i sehingga tidak salah dalam mengeluarkan fatwa untuk umat. Namun jika memang si anak cenderung pada ilmu dunia, jangan sampai ia tidak diajarkan ilmu agama yang wajib ia pelajari.</p>
<p>Dengan paham agama inilah seseorang akan dianugerahi Allah kebaikan, terserah dia adalah dokter, engineer, pakar IT dan lainnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ</p>
<p><strong><em>“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.”  </em></strong>(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)</p>
<p>Ingatlah pula bahwa yang diwarisi oleh para Nabi bukanlah harta, namun ilmu diin. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ</p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.”  </em></strong>(HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, Shahih)</p>
<p>Semoga tulisan ini semakin mendorong diri kita untuk tidak melalaikan ilmu agama. Begitu pula pada anak-anak kita, jangan lupa didikan ilmu agama yang wajib mereka pahami untuk bekal amalan keseharian  mereka. <em>Wallahu waiyyut taufiq</em>. (*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Sumber: rumaysho.com</p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-meminta-pertolongan-jin-untuk-mengetahui-perkara-gaib-dan-untuk-hipnotis/' rel='bookmark' title='Hukum Meminta Pertolongan Jin Untuk Mengetahui Perkara Gaib  Dan Untuk Hipnotis'>Hukum Meminta Pertolongan Jin Untuk Mengetahui Perkara Gaib  Dan Untuk Hipnotis</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/istikhaarah-sholat-untuk-meminta-petunjuk/' rel='bookmark' title='Istikhaarah: Sholat untuk Meminta Petunjuk'>Istikhaarah: Sholat untuk Meminta Petunjuk</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/nasehat-untuk-suami-isteri/' rel='bookmark' title='NASEHAT UNTUK SUAMI-ISTERI'>NASEHAT UNTUK SUAMI-ISTERI</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/lalai-untuk-belajar-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aqidah yang Benar [Unduh Gratis]</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/aqidah-yang-benar/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/aqidah-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 10:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[download buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=994</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Syekh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz Penjelasan Singkat:   Sesungguhnya, yang pertama kali Rasulullah (sallAllaahu 'alaihi wa sallam) dakwahkan terhadap kaumnya adalah ibadah kepada Allah ta'ala serta menjauhi apa yang merusak aqidah, karena aqidah yang yang benar adalah dasar Idiologi Islam serta pondasi agama. Hal ini sangat penting sebab seluruh amalan dan perbuatan tidaklah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/aqidah-yang-benar/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/Aqidah-Yang-Benar.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-995" title="Aqidah-Yang-Benar" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/Aqidah-Yang-Benar.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p><strong>Penulis: </strong>Syekh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz</p>
<p><strong>Penjelasan Singkat:  </strong></p>
<p>Sesungguhnya, yang pertama kali Rasulullah (sallAllaahu 'alaihi wa sallam) dakwahkan terhadap kaumnya adalah ibadah kepada Allah ta'ala serta menjauhi apa yang merusak aqidah, karena aqidah yang yang benar adalah dasar Idiologi Islam serta pondasi agama. Hal ini sangat penting sebab seluruh amalan dan perbuatan tidaklah sah dan diterima disisi Allah kecuali jika didasarkan atas aqidah yang benar.</p>
<p>Buku yang diharibaan para pembaca hakikatnya adalah ceramah yang disampaikan oleh yang mulia Syekh Abdul Aziz bin Baz -semoga Allah merahmatinya-tentang aqidah yang benar yang tersimpulkan dalam Iman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, KitabNya, Rasul-rasulNya, Hari Akhir Qadarnya yang baik maupun yang buruk sebagaimana beliau berbicara pads pembicaran akhir tentang hal-hal yang merusak Islam.</p>
<p>Semoga buku dapat menjadikan salah satu pembelajaran akan Aqidah yang Benar dan menjauhkan kita semua dari jalan-jalan kekufuran, kema'siyatan, bid'ah dan kemungkaran.</p>
<h2 style="text-align: center;"><a href="http://server1.iloveAllaah.com/indobooks/Aqidah_Yang_Benar_[www.IloveAllaah.com].pdf" target="_blank">Download</a></h2>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/risalah-ramadan/' rel='bookmark' title='Buku &#8211; Risalah Ramadan &#8211; Unduh Gratis'>Buku &#8211; Risalah Ramadan &#8211; Unduh Gratis</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/buku-puasa-unduh-gratis/' rel='bookmark' title='Buku &#8211; Puasa &#8211; Unduh Gratis'>Buku &#8211; Puasa &#8211; Unduh Gratis</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/apakah-kita-benar-benar-orang-yang-beriman/' rel='bookmark' title='Apakah Kita Benar-benar Orang yang Beriman??'>Apakah Kita Benar-benar Orang yang Beriman??</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/ini-adalah-aqidah-kita/' rel='bookmark' title='Ini adalah &#8216;Aqidah Kita'>Ini adalah &#8216;Aqidah Kita</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/aqidah-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Malam (Tahajjud), Apakah Harus Tidur Dahulu?</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-malam-tahajjud-apakah-harus-tidur-dahulu/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-malam-tahajjud-apakah-harus-tidur-dahulu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 00:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=990</guid>
		<description><![CDATA[Hukum sholat malam adalah sunah muakkad, yaitu mendekati wajib tetapi tidak wajib. Dengan kata lain, shalat malam sangat dianjurkan, itulah sebabnya  para orang saleh terdahulu menjadikan shalat malam sebagai kebiasaan. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah subhana wa ta'ala' ”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-malam-tahajjud-apakah-harus-tidur-dahulu/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/tahajud.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-991" title="tahajud" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/tahajud.jpg" alt="" width="521" height="294" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Hukum sholat malam adalah <em>sunah muakkad</em>, yaitu mendekati wajib tetapi tidak wajib. Dengan kata lain, shalat malam sangat dianjurkan, itulah sebabnya  para orang saleh terdahulu menjadikan shalat malam sebagai kebiasaan.</span> <span style="color: #000080;">Hal ini dijelaskan dalam firman Allah subhana wa ta'ala'</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” (QS. Al Israa ” 79)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Waktu shalat malam adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Dengan demikian, semua shalat yang dilakukan setelah 'isya (di luar shalat sunat rawatib 2 raka'at setelah 'isya) sampai masuknya waktu shubuh, disebut dengan shalat malam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Lalu, bagaimana dengan tahajjud? Apakah bedanya dengan shalat malam?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ibnu Faris berkata, “Adapun orang yang ber-<em>tahajud </em>(اَلْمُتَهَجِّدُ) adalah orang yang salat di waktu malam.” (Lihat <em>Fathul Bari</em>, 3:5, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Cet. 1, Thn. 1419 H/1998 M)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari terjemahan tersebut, diketahui bahwa shalat malam dan tahajjud adalah hal yang sama. Hanya beda istilah saja.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk tahajjud, kita harus tidur terlebih dahulu. Anggapan ini kurang tepat karena tidur bukanlah 'keharusan' atau 'syarat sah'nya tahajjud.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Rasulullah salallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: </span><br />
<span style="color: #000080;">“Apabila kamu mengantuk ketika shalat, maka tidurlah terlebih dahulu sampai hilang rasa kantukmu. Karena bila kamu mengantuk dalam shalat, mungkin suatu ketika kamu bermaksud memohon ampunan kepada ALLAH, tetapi ternyata kamu justru memaki-maki diri kamu sendiri."</span><br />
<span style="color: #000080;">[HR. Bukhari 205, Muslim 1309]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tidur terlebih dahulu adalah anjuran, bukan keharusan, karena waktu utama tahajjud adalah 1/3 terakhir malam agar kita tidak mengantuk dan kepayahan. Namun, semampu kita, tidur ataupun tidak tidur terlebih dahulu, shalat malam adalah ibadah yang sangat direkomendasikan karena banyak sekali keutamaannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Semoga Allah memudahkan kita mengamalkannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Keterangan lebih lengkap tentang keutamaan shalat malam silahkan baca di <span style="color: #800000;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/tahajjud/"><span style="color: #800000;">artikel ini</span></a></span>.</span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tahajjud/' rel='bookmark' title='Tahajjud'>Tahajjud</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/menyambung-sillaturrahmi-dan-shalat-malam/' rel='bookmark' title='Menyambung Sillaturrahmi dan Shalat Malam'>Menyambung Sillaturrahmi dan Shalat Malam</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-shalat-sunnat-yang-ditunaikan-sehari-hari/' rel='bookmark' title='SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI'>SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/adab-tidur/' rel='bookmark' title='Adab Tidur'>Adab Tidur</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-sunnah-rawatib/' rel='bookmark' title='Shalat Sunnah Rawatib'>Shalat Sunnah Rawatib</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/waktu-waktu-yang-terlarang-untuk-shalat/' rel='bookmark' title='Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Shalat'>Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Shalat</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-shalat-berjamaah-di-masjid-bagi-wanita/' rel='bookmark' title='Hukum Shalat Berjamaah di Masjid Bagi Wanita'>Hukum Shalat Berjamaah di Masjid Bagi Wanita</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tafsir-surat-al-qadr-malam-kemuliaan/' rel='bookmark' title='TAFSIR SURAT AL-QADR (MALAM KEMULIAAN)'>TAFSIR SURAT AL-QADR (MALAM KEMULIAAN)</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-jumat/' rel='bookmark' title='Shalat Jum&#8217;at'>Shalat Jum&#8217;at</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/mengapa-harus-bertaubat/' rel='bookmark' title='Mengapa Harus Bertaubat?'>Mengapa Harus Bertaubat?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-malam-tahajjud-apakah-harus-tidur-dahulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Membaca Surat Al Mulk</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 05:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam di ke-seharian]]></category>
		<category><![CDATA[Petunjuk dan Saran]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=984</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة » “Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120215-00842.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-985" title="IMG-20120215-00842" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120215-00842.jpg" alt="" width="413" height="310" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة »</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“<em>Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga</em>”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn1"><span style="color: #ff0000;">[1]</span></a></span>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn2"><span style="color: #ff0000;">[2]</span></a></span>, karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafa’at dengan izin Allah <em>Ta’ala</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Hadits ini semakna dengan hadits lain dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em> bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Satu surat dalam al-Qur’an yang hanya (terdiri dari) tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah <em>Ta’ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga, yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan</em>”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn3"><span style="color: #ff0000;">[3]</span></a></span>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">- Keutamaan dalam hadits ini diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat al-Mulk dengan secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn4"><span style="color: #ff0000;">[4]</span></a></span>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">- Surat ini termasuk surat-surat al-Qur’an yang biasa dibaca oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn5"><span style="color: #ff0000;">[5]</span></a></span>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">- Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur)<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn6"><span style="color: #ff0000;">[6]</span></a></span>, akan tetapi penamaan ini disebutkan dalam hadits yang lemah<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn7"><span style="color: #ff0000;">[7]</span></a></span>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">- Al-Qur’an akan memberikan syafa’at (dengan izin Allah) bagi orang yang membacanya (dengan menghayati artinya) dan mengamalkan isinya<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn8"><span style="color: #ff0000;">[8]</span></a></span>, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> “<em>Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia)</em>”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftn9"><span style="color: #ff0000;">[9]</span></a></span>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com/"><span style="color: #000080;">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</span></a><br />
Sumber : <a href="http://muslim.or.id/"><span style="color: #000080;">muslim.or.id</span></a></span></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref1"><span style="color: #000080;">[1]</span></a>HR Abu Dawud (no. 1400), at-Tirmidzi (no. 2891), Ibnu Majah (no. 3786), Ahmad (2/299) dan al-Hakim (no. 2075 dan 3838), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim dan disepakati oleh imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref2"><span style="color: #000080;">[2]</span></a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/453).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref3"><span style="color: #000080;">[3]</span></a> HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 3654) dan “al-Mu’jamush shagiir” (no. 490), dinyatakan shahih oleh al-Haitsami dan Ibnu hajar (dinukil dalam kitab “Faidhul Qadiir” 4/115) dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 3644).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref4"><span style="color: #000080;">[4]</span></a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/115).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref5"><span style="color: #000080;">[5]</span></a> HR at-Tirmidzi (no. 2892) dan Ahmad (3/340), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 585).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref6"><span style="color: #000080;">[6]</span></a> Lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” (18/205).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref7"><span style="color: #000080;">[7]</span></a> Lihat kitab “Dha’iifut targiibi wat tarhiib” (no. 887).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref8"><span style="color: #000080;">[8]</span></a> Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/240).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://muslim.or.id/tafsir/keutamaan-membaca-surat-al-mulk.html#_ftnref9"><span style="color: #000080;">[9]</span></a> HSR Muslim (no. 804).</span></p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml><br />
 <w:WordDocument><br />
  <w:View>Normal</w:View><br />
  <w:Zoom>0</w:Zoom><br />
  <w:TrackMoves/><br />
  <w:TrackFormatting/><br />
  <w:PunctuationKerning/><br />
  <w:ValidateAgainstSchemas/><br />
  <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid><br />
  <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent><br />
  <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText><br />
  <w:DoNotPromoteQF/><br />
  <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther><br />
  <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian><br />
  <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript><br />
  <w:Compatibility><br />
   <w:BreakWrappedTables/><br />
   <w:SnapToGridInCell/><br />
   <w:WrapTextWithPunct/><br />
   <w:UseAsianBreakRules/><br />
   <w:DontGrowAutofit/><br />
   <w:SplitPgBreakAndParaMark/><br />
   <w:DontVertAlignCellWithSp/><br />
   <w:DontBreakConstrainedForcedTables/><br />
   <w:DontVertAlignInTxbx/><br />
   <w:Word11KerningPairs/><br />
   <w:CachedColBalance/><br />
  </w:Compatibility><br />
  <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel><br />
  <m:mathPr><br />
   <m:mathFont m:val="Cambria Math"/><br />
   <m:brkBin m:val="before"/><br />
   <m:brkBinSub m:val="&#45;-"/><br />
   <m:smallFrac m:val="off"/><br />
   <m:dispDef/><br />
   <m:lMargin m:val="0"/><br />
   <m:rMargin m:val="0"/><br />
   <m:defJc m:val="centerGroup"/><br />
   <m:wrapIndent m:val="1440"/><br />
   <m:intLim m:val="subSup"/><br />
   <m:naryLim m:val="undOvr"/><br />
  </m:mathPr></w:WordDocument><br />
</xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml><br />
 <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"<br />
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"<br />
  LatentStyleCount="267"><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"<br />
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/><br />
  <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/><br />
 </w:LatentStyles><br />
</xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin-top:0cm;
	mso-para-margin-right:0cm;
	mso-para-margin-bottom:10.0pt;
	mso-para-margin-left:0cm;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: navy;">Penulis: <a href="http://manisnyaiman.com/"><span style="color: navy; text-decoration: none;">Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</span></a><br />
Sumber : <a href="http://muslim.or.id/"><span style="color: navy; text-decoration: none;">muslim.or.id</span></a></span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-surat-al-ikhla/' rel='bookmark' title='Keutamaan Surat Al-Ikhlash'>Keutamaan Surat Al-Ikhlash</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/9-waktu-dianjurkan-membaca-surat-al-ikhlas/' rel='bookmark' title='9 Waktu Dianjurkan Membaca Surat Al-Ikhlas'>9 Waktu Dianjurkan Membaca Surat Al-Ikhlas</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-membaca-dan-menghafal-al-quran/' rel='bookmark' title='Keutamaan Membaca dan Menghafal  al-Qur`an'>Keutamaan Membaca dan Menghafal  al-Qur`an</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/surat-al-kahfi-pada-hari-jumat/' rel='bookmark' title='Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at'>Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hadits-palsu-tentang-khasiat-surat-yasin/' rel='bookmark' title='Hadits Palsu Tentang Khasiat Surat Yasin'>Hadits Palsu Tentang Khasiat Surat Yasin</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-membaca-al-quran-tanpa-wudhu/' rel='bookmark' title='Hukum Membaca al-Qur`an  Tanpa Wudhu'>Hukum Membaca al-Qur`an  Tanpa Wudhu</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-al-quran/' rel='bookmark' title='Keutamaan Al-Qur&#8217;an'>Keutamaan Al-Qur&#8217;an</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-sedekah-di-hari-jumat/' rel='bookmark' title='Keutamaan Sedekah di Hari Jumat'>Keutamaan Sedekah di Hari Jumat</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tafsir-surat-al-%e2%80%98ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian/' rel='bookmark' title='Tafsir Surat Al ‘Ashr: Membebaskan Diri Dari Kerugian'>Tafsir Surat Al ‘Ashr: Membebaskan Diri Dari Kerugian</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/surat-an-nisa-satu-bukti-islam-memuliakan-wanita/' rel='bookmark' title='Surat An-Nisa`, Satu Bukti Islam Memuliakan Wanita'>Surat An-Nisa`, Satu Bukti Islam Memuliakan Wanita</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-membaca-surat-al-mulk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meninggalkan Shalat Jum’at, Mengulur Waktu Datang Ke Masjid, Tidak Mandi, Tidak Pakai Wangi-Wangian</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/meninggalkan-shalat-jumat-mengulur-waktu-datang-ke-masjid-tidak-mandi-tidak-pakai-wangi-wangian/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/meninggalkan-shalat-jumat-mengulur-waktu-datang-ke-masjid-tidak-mandi-tidak-pakai-wangi-wangian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 07:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petunjuk dan Saran]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Jum'at]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=986</guid>
		<description><![CDATA[Meninggalkan Shalat Jum'at Sebagian kaum muslimin ada yang meninggalkan shalat Jum’at karena sikap meremehkannya serta lengah untuk menjunjung tinggi syi’ar-syi’ar agama Allah, yang dalam hal itu Allah telah menyatakan dengan firman-Nya: ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang-siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar agama Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/meninggalkan-shalat-jumat-mengulur-waktu-datang-ke-masjid-tidak-mandi-tidak-pakai-wangi-wangian/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/jumat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-987" title="jumat" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/jumat.jpg" alt="" width="450" height="308" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #000080;">Meninggalkan Shalat Jum'at</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sebagian kaum muslimin ada yang meninggalkan shalat Jum’at karena sikap meremehkannya serta lengah untuk menjunjung tinggi syi’ar-syi’ar agama Allah, yang dalam hal itu Allah telah menyatakan dengan firman-Nya:</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang-siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar agama Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> Dan hendaklah orang yang suka mengabaikan shalat Jum’at mengetahui bahwa dengan demikian itu dia telah melakukan perbuatan dosa besar sekaligus kejahatan yang besar. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzabnya dengan mengunci mati hatinya, sehingga dia tidak akan pernah tahu suatu kebaikan dan tidak juga dapat mengingkari kemungkaran. Dia pun tidak akan pernah merasakan nikmatnya Islam serta tidak pula merasakan manisnya iman.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan Abu HurairahRadhiyallahu ‘anhu. Keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas pilar-pilar mimbarnya</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونَنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau Allah akan mengunci mati hati mereka yang kemudian mereka termasuk orang-orang yang lalai.” <span style="color: #ff0000;">[1]</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">At-Tirmidzi juga meriwayatkan dan menilainya hasan, serta dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari Abu al-Ja’d adh-Dhamri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena meremehkannya, maka Allah akan mengunci mati hatinya.”<span style="color: #ff0000;"> [2]</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban disebutkan</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَهُوَ مُنَافِقٌ.</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali tanpa alasan yang dibenarkan, maka dia adalah seorang munafiq.” <span style="color: #ff0000;">[3]</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ مُتَوَالِيَاتٍ، فَقَدْ نَبَذَ اْلإِسْلاَمَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut, sungguh dia telah men-campakkan Islam ke belakang punggungnya.” <span style="color: #ff0000;">[4]</p>
<p></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Mengulur Waktu Datang ke Masjid Sehingga Khatib Naik Mimbar</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Di antara kaum muslimin ada yang berlambat-lambat ketika mendatangi shalat Jum’at sehingga khatib naik mimbar. Padahal dengan demikian itu mereka telah kehilangan banyak kebaikan serta pahala yang melimpah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Di dalam ash-Shahiihain (Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim) disebutkan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَـا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَـامِسَةِ فَكَأَنَّمَـا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَـامُ حَضَـرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub kemudian dia berangkat ke masjid, maka seakan-akan dia berkurban dengan unta. Barangsiapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan kambing yang bertanduk. Barangsiapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan telur.Jika imam (khatib) telah datang, maka Malaikat akan hadir untuk mendengarkan Khutbah.”<span style="color: #ff0000;"> [5]</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Maksudnya, para Malaikat itu menutup lembaran catatan pahala bagi mereka yang terlambat sehingga tidak mendapatkan pahala yang lebih bagi orang-orang yang masuk masjid (di saat khatib sudah naik mimbar). Pengertian tersebut diperkuat oleh hadits berikut ini:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albani. Dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">تَقْعُدُ الْمَلاَئِكَةُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَعَهُمُ الصُّحُفُ يَكْتُبُونَ النَّاسَ فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ قُلْتُ: يَا أَبَا أُمَامَةَ لَيْسَ لِمَنْ جَاءَ بَعْدَ خُرُوجِ اْلإِمَامِ جُمُعَةٌ؟ قَالَ: بَلَى وَلَكِنْ لَيْسَ مِمَّنْ يُكْتَبُ فِي الصُّحُفِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Pada hari Jum’at para Malaikat duduk di pintu-pintu masjid yang bersama mereka lembaran-lembaran catatan. Mereka mencatat orang-orang (yang datang untuk shalat), di mana jika imam (khatib) telah datang menuju ke mimbar, maka lembaran-lembaran catatan itu akan ditutup.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Lalu kutanyakan, “Hai Abu Umamah, kalau begitu bukankah orang yang datang setelah naiknya khatib ke mimbar berarti tidak ada Jum’at baginya?”</span><br />
<span style="color: #000080;"> Dia menjawab, “Benar, tetapi bukan bagi orang yang telah dicatat di dalam lembaran-lem-baran catatan.” <span style="color: #ff0000;">[6]</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Tidak Mandi, Memakai Wewangian, dan Bersiwak</strong><strong> di Hari Jum'at</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><span style="color: #000080;">Di antara jama’ah ada juga yang mengabaikan masalah mandi dan memakai wangi-wangian pada hari Jum’at.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Padahal Islam menghendaki kaum muslimin supaya berkumpul pada hari Jum’at pada pertemuan mingguan dalam keadaan sesempurna mungkin, berpenampilan paling baik, serta memakai wangi-wangian yang paling wangi sehingga orang lain tidak terganggu oleh bau yang tidak sedap. Serta tidak juga mengganggu para Malaikat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Di dalam kitab ash-Shahiihain disebutkan, dari Abu Bakar bin al-Munkadir, dia berkata, ‘Amr bin Sulaim al-Anshari pernah memberitahuku, dia berkata, Aku bersaksi atas Abu Sa’id yang mengatakan, Aku bersaksi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَأَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Mandi pada hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh. Dan hendaklah dia menyikat gigi serta memakai wewangian jika punya.”<span style="color: #ff0000;"> [7]</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Di dalam kitab Shahiih al-Bukhari juga disebutkan, dari Salman al-Farisi, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="color: #000080;">لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيُدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Tidaklah seseorang mandi dan bersuci semampunya pada hari Jum’at, memakai mi-nyak rambut atau memakai minyak wangi di rumahnya kemudian keluar lalu dia tidak memisahkan antara dua orang (dalam shaff) kemudian mengerjakan shalat dan selanjutnya dia diam (tidak berbicara) jika khatib berkhutbah, melainkan akan diberikan ampunan kepadanya (atas kesalahan yang terjadi) antara Jum’atnya itu dengan Jum’at yang berikut-nya.” [8]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">[Disalin dari kitab kitab al-Kali-maatun Naafi’ah fil Akhthaa' asy-Syaa-i’ah, Bab “75 Khatha-an fii Shalaatil Jumu’ah.” Edisi Indonesia 75 Kesalahan Se-putar Hari dan Shalat Jum’at, Karya Wahid bin ‘Abdis Salam Baali. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<span style="color: #000080;"> _______</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #003300;"> [1]. Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 865), dan an-Nasa-i (no. 1370), serta Ibnu Majah (no. 794).</span></span><br />
<span style="color: #003300;"> [2]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 15072), Abu Dawud (no. 1052), at-Tirmidzi (no. 500), an-Nasa-i (no. 1369), Ibnu Majah (no. 1125). Dan at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan.”</span><br />
<span style="color: #003300;"> [3]. Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 258/Ihsaan), Ibnu Khuzaimah (no. 1857) dengan sanad yang hasan, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani di dalam kitab Shahiih at-Targhiib (no. 726).</span><br />
<span style="color: #003300;"> [4]. Shahih Mauquf: Dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih at-Targhiib (no. 732).</span><br />
<span style="color: #003300;"> [5]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850).</span><br />
<span style="color: #003300;"> [6]. Hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 21765) dan selainnya yang dinilai hasan oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih at-Targhiib (no. 710).</span><br />
<span style="color: #003300;"> [7]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 880) dan Muslim (no. 846).</span><br />
<span style="color: #003300;"> [8]. Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 883).</span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/waktu-waktu-yang-terlarang-untuk-shalat/' rel='bookmark' title='Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Shalat'>Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Shalat</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-jumat/' rel='bookmark' title='Shalat Jum&#8217;at'>Shalat Jum&#8217;at</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-shalat-berjamaah-di-masjid-bagi-wanita/' rel='bookmark' title='Hukum Shalat Berjamaah di Masjid Bagi Wanita'>Hukum Shalat Berjamaah di Masjid Bagi Wanita</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/jumlah-jamaah-shalat-jumat/' rel='bookmark' title='Shalat Jum&#8217;at haruskah dengan 40 Jama&#8217;ah?'>Shalat Jum&#8217;at haruskah dengan 40 Jama&#8217;ah?</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-shalat-sunnat-yang-ditunaikan-sehari-hari/' rel='bookmark' title='SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI'>SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-sholat-berjamaah-di-masjid/' rel='bookmark' title='Keutamaan Sholat Berjamaah di Masjid'>Keutamaan Sholat Berjamaah di Masjid</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/waktu-waktu-terkabulnya-do%e2%80%99a/' rel='bookmark' title='Waktu-Waktu Terkabulnya Do’a'>Waktu-Waktu Terkabulnya Do’a</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-sunnah-rawatib/' rel='bookmark' title='Shalat Sunnah Rawatib'>Shalat Sunnah Rawatib</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/9-waktu-dianjurkan-membaca-surat-al-ikhlas/' rel='bookmark' title='9 Waktu Dianjurkan Membaca Surat Al-Ikhlas'>9 Waktu Dianjurkan Membaca Surat Al-Ikhlas</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keistimewaan-hari-jumat/' rel='bookmark' title='Keistimewaan Hari Jum&#8217;at'>Keistimewaan Hari Jum&#8217;at</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/meninggalkan-shalat-jumat-mengulur-waktu-datang-ke-masjid-tidak-mandi-tidak-pakai-wangi-wangian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Amalan dan Do&#8217;a Ketika Hujan</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/beberapa-amalan-dan-doa-ketika-hujan/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/beberapa-amalan-dan-doa-ketika-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 05:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam di ke-seharian]]></category>
		<category><![CDATA[Petunjuk dan Saran]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Petunjuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=981</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah Ta’ala atas segala macam nikmat yang telah diberikan-Nya. Dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman. Segala puji bagi Allah, pada saat ini Allah telah menganugerahkan kita suatu karunia dengan menurunkan hujan melalui kumpulan awan. Allah Ta’ala berfirman, أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/beberapa-amalan-dan-doa-ketika-hujan/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/hujan4.jpg"><img class="size-medium wp-image-982 alignright" title="hujan" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/hujan4-300x209.jpg" alt="" width="300" height="209" /></a><span style="color: #000080;">Segala puji bagi Allah <em>Ta’ala</em> atas segala macam nikmat yang telah diberikan-Nya. Dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Segala puji bagi Allah, pada saat ini Allah telah menganugerahkan kita suatu karunia dengan menurunkan hujan melalui kumpulan awan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69)</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”<em>Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?</em>” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Begitu juga firman Allah <em>Ta’ala</em>,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14)</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”<em>Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.</em>” (QS. An Naba’ [78] : 14)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”<em>Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya.</em>” (QS. An Nur [24] : 43) yaitu dari celah-celah awan.<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn1"><span style="color: #ff0000;">[1]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Merupakan tanda kekuasaan Allah <em>Ta’ala</em>, kesendirian-Nya<em> </em>dalam menguasai dan mengatur alam semesta, Allah menurunkan hujan pada tanah yang tandus yang tidak tumbuh tanaman sehingga pada tanah tersebut tumbuhlah tanaman yang indah untuk dipandang. Allah <em>Ta’ala </em>telah mengatakan yang demikian dalam firman-Nya,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“<em>Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.</em>” (QS. Fushshilat [41] : 39). Itulah hujan, yang Allah turunkan untuk menghidupkan tanah yang mati. Sebagaimana pembaca dapat melihat pada daerah yang kering dan jarang sekali dijumpai air seperti Gunung Kidul, tatkala hujan itu turun, datanglah keberkahan dengan mekarnya kembali berbagai tanaman dan pohon jati kembali hidup setelah sebelumnya kering tanpa daun. Sungguh ini adalah suatu kenikmatan yang amat besar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat hujan yang telah diberikan ini, sebaiknya kita mengilmui beberapa hal seputar musim hujan.  </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>:: Beberapa Amalan Ketika Turun Hujan ::<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[1] Keadaan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> Tatkala Mendung</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ketika muncul mendung, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, beliau berkata,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاِق السَمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ- ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ؛ فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهَ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: “اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً”</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “<em>Allahumma shoyyiban nafi’an</em>” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat].”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn2"><span style="color: #ff0000;">[2]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">’Aisyah <em>radhiyallahu ’anha </em>berkata,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَا أَدْرِى لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ ( فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ ) »</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>apabila melihat mendung di langit, beliau beranjak ke depan, ke belakang atau beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajah beliau. Apabila hujan turun, beliau <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> mulai menenangkan hatinya. ’Aisyah sudah memaklumi jika beliau melakukan seperti itu. Lalu Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>mengatakan, ”<em>Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang terjadi (pada Kaum ’Aad) sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), ”Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.” (QS. Al Ahqaf [46] : 24)”</em><span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn3"><span style="color: #ff0000;">[3]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ibnu Hajar mengatakan, ”Hadits ini menunjukkan bahwa seharusnya seseorang menjadi kusut pikirannya jika ia mengingat-ingat apa yang terjadi pada umat di masa silam dan ini merupakan peringatan agar ia selalu merasa takut akan adzab sebagaimana ditimpakan kepada mereka yaitu umat-umat sebelumnya.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn4"><span style="color: #ff0000;">[4]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[2] Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do’a,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“<em>Allahumma shoyyiban naafi’aa</em> [<em>Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].</em>”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Itulah yang Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah <em>radhiyallahu ’anha</em>,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً »</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”<em>Allahumma shoyyiban nafi’an”</em> [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn5"><span style="color: #ff0000;">[5]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Al Khottobi mengatakan, ”Air hujan yang mengalir adalah suatu karunia.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn6"><span style="color: #ff0000;">[6]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[3] Turunnya Hujan, Kesempatan Terbaik untuk Memanjatkan Do’a</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ibnu Qudamah dalam <em>Al Mughni</em><span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn7"><span style="color: #ff0000;">[7]</span></a><em> </em></span>mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">’<em>Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”</em><span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn8"><span style="color: #ff0000;">[8]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ<strong> </strong>وَ تَحْتَ المَطَرِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“<em>Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.</em>”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn9"><span style="color: #ff0000;">[9]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[4] Ketika Terjadi Hujan Lebat</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdo’a,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn10"><span style="color: #ff0000;">[10]</span></a></span></em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ibnul Qayyim mengatakan, ”Ketika hujan semakin lebat, para sahabat meminta pada Nabi <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>supaya berdo’a agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau membaca do’a di atas.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn11"><span style="color: #ff0000;">[11]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Syaikh Sholih As Sadlan mengatakan bahwa do’a di atas dibaca ketika hujan semakin lebat atau khawatir hujan akan membawa dampak bahaya.<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn12"><span style="color: #ff0000;">[12]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[5] Mengambil Berkah dari Air Hujan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “<em>Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?</em>” Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“<em>Karena </em><em>hujan ini </em><em>baru saja Allah ciptakan</em>.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn13"><span style="color: #ff0000;">[13]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">An Nawawi menjelaskan, “Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah <em>Ta’ala</em>. Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn14"><span style="color: #ff0000;">[14]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">An Nawawi selanjutnya mengatakan, ”Dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama Syafi’iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut. Dan mereka juga berdalil dari hadits ini bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan, apabila melihat orang yang lebih berilmu melakukan sesuatu yang ia tidak ketahui, hendaknya ia menanyakannya untuk diajari lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya pada yang lain.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn15"><span style="color: #ff0000;">[15]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam hal mencari berkah dengan air hujan dicontohkan pula oleh sahabat Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: “يَا جَارِيَّةُ ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً [ق: 9].</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”Apabila turun hujan, beliau mengatakan, ”Wahai <em>jariyah</em> keluarkanlah pelanaku, juga bajuku”.” Lalu beliau membacakan (ayat) [yang artinya], ”<em>Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).</em>” (QS. Qaaf [50] : 9)” <span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn16"><span style="color: #ff0000;">[16]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[6] Dianjurkan Berwudhu dengan Air Hujan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ibnu Qudamah mengatakan, ”Dianjurkan untuk berwudhu dengan air hujan apabila airnya mengalir deras.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn17"><span style="color: #ff0000;">[17]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari Yazid bin Al Hadi, apabila air yang deras mengalir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">اُخْرُجُوا بِنَا إلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ طَهُورًا ، فَنَتَطَهَّرَمِنْهُ وَنَحْمَدَ اللّهَ عَلَيْهِ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”<em>Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci.”</em> Kemudian kami bersuci dengan air tersebut dan memuji Allah atas nikmat ini.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn18"><span style="color: #ff0000;">[18]</span></a></span><strong></strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Namun, hadits di atas adalah hadits yang lemah karena <em>munqothi’</em> (terputus sanadnya) sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn19"><span style="color: #ff0000;">[19]</span></a>.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ada hadits yang serupa dengan hadits di atas dan shahih,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">كَانَ يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي ” أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ “</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Apabila air mengalir di lembah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, “<em>Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”</em>. Kemudian kami bersuci dengannya.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn20"><span style="color: #ff0000;">[20]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[7] Janganlah Mencela Hujan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan nikmat dari Allah <em>Ta’ala</em>. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan, “<em>Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Perlu diketahui bahwa setiap yang seseorang ucapkan, baik yang bernilai dosa atau tidak bernilai dosa dan pahala, semua akan masuk dalam catatan malaikat. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”<em>Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.</em>” (QS. Qaaf [50] : 18)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“<em>Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.</em>”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn21"><span style="color: #ff0000;">[21]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>“</em><em>Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.</em><em>”</em><span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn22"><span style="color: #ff0000;">[22]</span></a></span><em></em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa</em> <em>sallam</em> juga bersabda,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">”<em>Janganlah kamu mencaci maki angin.”</em><span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn23"><span style="color: #ff0000;">[23]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Larangan ini bisa termasuk <strong>syirik akbar</strong> (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari kejelekan yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk. Ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya <strong>haram</strong>, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan, “<em>Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat”</em>, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn24"><span style="color: #ff0000;">[24]</span></a></span><strong></strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Intinya, mencela hujan tidak terlepas dari hal yang terlarang karena itu sama saja orang yang mencela hujan mencela Pencipta hujan yaitu Allah <em>Ta’ala</em>. Ini juga menunjukkan ketidaksabaran pada diri orang yang mencela. Sudah seharusnya lisan ini selalu dijaga. Jangan sampai kita mengeluarkan kata-kata yang dapat membuat Allah murka. Semestinya yang dilakukan ketika turun hujan adalah banyak bersyukur kepada-Nya sebagaimana telah diterangkan dalam point-point sebelumnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>[8] Berdo’a Setelah Turunnya Hujan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan, ”<em>Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?</em>” Kemudian mereka mengatakan,”<em>Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui</em>”. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</span></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl"><span style="color: #000080;">« أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ »</span></h3>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’<em>Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’</em> (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah)<em>, </em>maka<em> </em>dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘<em>Muthirna binnau kadza wa kadza</em>’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn25"><span style="color: #ff0000;">[25]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan ‘<em>Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’</em> (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang diberikan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin <em>rahimahullah </em>mengatakan, ”Tidak boleh bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab bintang-bintang. Hal ini bisa termasuk <strong>kufur akbar </strong>yang<strong> </strong>menyebabkan seseorang keluar dari Islam jika ia meyakini bahwa bintang tersebut adalah yang menciptakan hujan. Namun kalau menganggap bintang tersebut hanya sebagai sebab, maka seperti ini termasuk <strong>kufur ashgor</strong> (kufur yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam). Ingatlah bahwa bintang tidak memberikan pengaruh terjadinya hujan. Bintang hanya sekedar waktu semata.”<span style="color: #ff0000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftn26"><span style="color: #ff0000;">[26]</span></a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Demikian beberapa amalan yang bisa diamalkan ketikan hujan turun.</span></p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref1"><span style="color: #008000;">[1]</span></a> Lihat <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Ibnu Taimiyyah, 24/262, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref2"><span style="color: #008000;">[2]</span></a> Lihat <em>Adabul Mufrod</em> no. 686, dihasankan oleh Syaikh Al Albani</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref3"><span style="color: #008000;">[3]</span></a> HR. Bukhari no. 3206</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref4"><span style="color: #008000;">[4]</span></a> <em>Fathul Bari Syarh Shohih Al Bukhari</em>, Ibnu Hajar Al ’Asqolani Asy Syafi’i, 6/301, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref5"><span style="color: #008000;">[5]</span></a> HR. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An Nasai no. 1523.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref6"><span style="color: #008000;">[6]</span></a> Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 5/18, Asy Syamilah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref7"><span style="color: #008000;">[7]</span></a> <em>Al Mughni fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hambal Asy Syaibani</em>, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 2/294, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama, 1405 H.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref8"><span style="color: #008000;">[8]</span></a> Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam <em>Al Umm </em>dan Al Baihaqi dalam <em>Al Ma’rifah </em>dari Makhul secara mursal. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih. </em>Lihat Shohihul Jaami’ no. 1026.<em></em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref9"><span style="color: #008000;">[9]</span></a> HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref10"><span style="color: #008000;">[10]</span></a> HR. Bukhari no. 1014.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref11"><span style="color: #008000;">[11]</span></a> <em>Zaadul Ma’ad</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/439, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, tahun 1407 H.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref12"><span style="color: #008000;">[12]</span></a> Lihat Dzikru wa Tadzkir, Sholih As Sadlan, hal. 28, Asy Syamilah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref13"><span style="color: #008000;">[13]</span></a> HR. Muslim no. 898.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref14"><span style="color: #008000;">[14]</span></a> <em>Syarh Muslim</em>, Yahya bin Syarf An Nawawi, 6/195, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392 H.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref15"><span style="color: #008000;">[15]</span></a> <em>Syarh Muslim</em>, 6/196.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref16"><span style="color: #008000;">[16]</span></a> Lihat Adabul Mufrod no. 1228. Syaikh Al Albani mengatakan sanad hadits ini shohih dan hadits ini <em>mauquf</em> [perkataan sahabat].</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref17"><span style="color: #008000;">[17]</span></a> <em>Al Mughni</em>, 2/295.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref18"><span style="color: #008000;">[18]</span></a> Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro (3/359) dan Tuhfatul Muhtaj (1/567). Dikeluarkan pula oleh An Nawawi dalam Al Khulashoh (2/884) dan Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (1/216) [dinukil dari <a href="http://dorar.net/"><span style="color: #008000;">http://dorar.net</span></a> ]. Lihat pula <em>Zaadul Ma’ad</em>, Ibnul Qayyim, 1/439. Hadits ini adalah hadits yang lemah karena <em>munqothi’</em> yaitu ada sanad yang terputus.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref19"><span style="color: #008000;">[19]</span></a> Syaikh Al Albani dalam <em>Dho’if Al Jaami’</em> no. 4416 mengatakan bahwa hadits ini <em>dho’if.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref20"><span style="color: #008000;">[20]</span></a> HR. Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad. Lihat <em>Irwa’ul Gholil</em><em> </em>no. 679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini<em>shahih.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref21"><span style="color: #008000;">[21]</span></a> HR. Bukhari no. 6478.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref22"><span style="color: #008000;">[22]</span></a> HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref23"><span style="color: #008000;">[23]</span></a> HR. Tirmidzi no. 2252, dari Abu Ka’ab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref24"><span style="color: #008000;">[24]</span></a> Faedah dari guru kami Ustadz Abu Isa <em>hafizhohullah</em>. Lihat buah pena beliau “<em>Mutiara Faedah Kitab Tauhid</em>”, hal. 227-231, Pustaka Muslim, cetakan pertama, Jumadal Ula 1428 H.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref25"><span style="color: #008000;">[25]</span></a> HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71, dari Kholid Al Juhaniy.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2795-beberapa-amalan-ketika-turun-hujan.html#_ftnref26"><span style="color: #008000;">[26]</span></a> <em>Kutub wa Rosa’il Lil ‘Utsaimin</em>, 170/20, Asy Syamilah.</span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/11-amalan-ketika-berbuka-puasa/' rel='bookmark' title='11 Amalan Ketika Berbuka Puasa'>11 Amalan Ketika Berbuka Puasa</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-dan-amalan-amalan-yang-disyariatkan/' rel='bookmark' title='KEUTAMAAN SEPULUH HARI DZULHIJJAH DAN AMALAN-AMALAN YANG DISYARI&#8217;ATKAN'>KEUTAMAAN SEPULUH HARI DZULHIJJAH DAN AMALAN-AMALAN YANG DISYARI&#8217;ATKAN</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/amalan-amalan-di-bulan-suci-ramadhan/' rel='bookmark' title='Amalan-amalan di bulan Suci Ramadhan'>Amalan-amalan di bulan Suci Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/adab-tidur/' rel='bookmark' title='Adab Tidur'>Adab Tidur</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/pentingnya-niat-ikhlas/' rel='bookmark' title='Pentingnya Niat Ikhlas dalam setiap amalan dan menjauhi Riya'>Pentingnya Niat Ikhlas dalam setiap amalan dan menjauhi Riya</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/surat-al-kahfi-pada-hari-jumat/' rel='bookmark' title='Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at'>Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/beberapa-nasehat-untuk-wanita/' rel='bookmark' title='Beberapa Nasehat Untuk Wanita'>Beberapa Nasehat Untuk Wanita</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-shalat-sunnat-yang-ditunaikan-sehari-hari/' rel='bookmark' title='SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI'>SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/waktu-waktu-terkabulnya-do%e2%80%99a/' rel='bookmark' title='Waktu-Waktu Terkabulnya Do’a'>Waktu-Waktu Terkabulnya Do’a</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/beberapa-kesalahan-dalam-berwudhu/' rel='bookmark' title='Beberapa Kesalahan dalam Berwudhu'>Beberapa Kesalahan dalam Berwudhu</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/beberapa-amalan-dan-doa-ketika-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Jum&#8217;at haruskah dengan 40 Jama&#8217;ah?</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/jumlah-jamaah-shalat-jumat/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/jumlah-jamaah-shalat-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 02:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Jum'at]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=974</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan yang telah lewat bahwa shalat Jum’at disyaratkan dengan berjama’ah di masjid.  Sebagian ulama menyaratkan harus minimal 40 jama’ah agar bisa dinyatakan sah.  Sebagian lainnya menyatakan dengan jumlah tertentu, 2, 3, 4, 12, dan Imam Ahmad sendiri menyaratkan 50 orang sebagaimana disebutkan dalam Al Mughni. Saat ini rumaysho.com akan meninjau masalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/jumlah-jamaah-shalat-jumat/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/shalat.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-975" title="shalat" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/shalat-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan yang telah lewat bahwa shalat Jum’at disyaratkan dengan <strong>berjama’ah di masjid</strong>.  Sebagian ulama menyaratkan harus minimal 40 jama’ah agar bisa dinyatakan sah.  Sebagian lainnya menyatakan dengan jumlah tertentu, 2, 3, 4, 12, dan Imam Ahmad sendiri menyaratkan 50 orang sebagaimana disebutkan dalam Al Mughni. Saat ini rumaysho.com akan meninjau masalah tersebut secara ringkas. Semoga Allah mudahkan.</p>
<h4><span style="color: #800080;"><strong>Shalat Jum’at dengan Berjama’ah</strong></span></h4>
<p>Dipersyaratkan demikian karena shalat Jum’at bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi <em>ijma’</em> (kata sepakat) para ulama. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 202)</p>
<h4><span style="color: #800080;"><strong>Jumlah Jama’ah Jum’at yang Disyaratkan</strong></span></h4>
<p>Menurut madzhab Hanafiyah, jika telah hadir satu jama’ah selain imam, maka sudah terhitung sebagai jama’ah shalat Jum’at. Karena demikianlah minimalnya jamak. Dalil dari pendapat Hanafiyah adalah seruan jama’ dalam ayat,</p>
<p dir="RTL" align="center">فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ‌ اللَّـهِ وَذَرُ‌وا الْبَيْعَ</p>
<p><strong>“<em>Maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli</em>”</strong> (QS. Al Jumu’ah: 9). Seruan dalam ayat ini dengan panggilan jamak. Dan minimal jamak adalah dua orang. Ada pula ulama Hanafiyah yang menyatakan tiga orang selain imam.</p>
<p>Ulama Malikiyyah menyaratkan yang menghadiri Jum’at minimal 12 orang dari orang-orang yang diharuskan menghadirinya. Mereka berdalil dengan hadits Jabir,</p>
<p dir="RTL" align="center">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا</p>
<p><strong>"<em>Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa, kecuali dua belas orang</em>."</strong> (HR. Muslim no. 863)</p>
<p>Ulama Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat 40 orang dari yang diwajibkan menghadiri Jum’at. Penulis Al Mughni (2: 171) berkata, “Syarat 40 orang dalam jama’ah Jum’at adalah syarat yang telah masyhur dalam madzhab Hambali. Syarat ini adalah syarat yang diwajibkan mesti ada dan syarat sahnya Jum’at. … Empat puluh orang ini harus ada ketika dua khutbah Jum’at.”</p>
<p>Dalil yang menyatakan harus 40 jama’ah disimpulkan dari perkataan Ka’ab bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">لأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِى هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ. قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ.</p>
<p><strong>“<em>As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, “Waktu itu, ada berapa orang?” Dia menjawab, ”Empat puluh.</em>”</strong> (HR. Abu Daud no. 1069 dan Ibnu Majah no. 1082. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut <em>hasan</em>).</p>
<p>Begitu pula ditarik dari hadits Jabir bin ‘Abdillah,</p>
<p align="center">مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِيْ كُلِّ أَرْبَعِينَ فَمَا فَوْقَهَا جُمْعَةٌ</p>
<p>“<em>Telah berlalu sunnah (ajaran Rasul) bahwa setiap empat puluh orang ke atas diwajibkan shalat Jum’at.</em>" (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubro 3: 177.  Hadits ini <strong><em>dho’if</em></strong> sebagaimana didho’ifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul Gholil 603. Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Talkhish Habir 2: 567 berkata bahwa di dalamnya terdapat ‘Abdul ‘Aziz di mana Imam Ahmad berkata bahwa haditsnya dibuang karena ia adalah perowi dusta atau pemalsu hadits. An Nasai berkata bahwa ia tidaklah tsiqoh. Ad Daruquthni berkata bahwa ia adalah munkarul hadits). Kesimpulannya hadits terakhir ini adalah <em>hadits yang lemah (dho’if)</em> sehingga tidak bisa menjadi dalil pendukung.</p>
<p>Sedangkan hadits Ka’ab bin Malik di atas hanya menjelaskan keadaan dan tidak menunjukkan jumlah 40 sebagai syarat. Sehingga pendapat yang rojih (kuat) dalam masalah ini adalah jama’ah shalat Jum’at tidak beda dengan jama’ah shalat lainnya. Artinya, sah dilakukan oleh dua orang atau lebih karena sudah disebut jamak.</p>
<p>Adapun hadits yang menceritakan dengan 12 jama’ah, maka hadits ini tidak dapat dijadikan dalil pembatasan hanya dua belas orang saja karena terjadi tanpa sengaja, dan ada kemungkinan sebagiannya kembali ke masjid setelah menemui mereka.</p>
<p>Adapula pendapat Imam Ahmad yang menyaratkan 50 orang, namun haditsnya lemah sehingga tidak bisa dijadikan pendukung. Seperti hadits Abu Umamah, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">عَلَى الْخَمْسِيْنَ جُمْعَةٌ وَلَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ ذَلِكَ</p>
<p>"<em>Diwajibkan Jum’at pada lima puluh orang dan tidak diwajibkan jika kurang dari itu</em>." (HR. Ad Daruquthni dalam sunannya 2: 111. <strong>Haditsnya lemah</strong>, di sanadnya terdapat Ja’far bin Az Zubair, seorang matruk).</p>
<p>Juga hadits Abu Salamah, ia bertanya kepada Abu Hurairah,</p>
<p dir="RTL" align="center">عَلَى كَمْ تَجِبُ الْجُمُعَةُ مِنْ رَجُلٍ ؟ قَالَ : لَمَّا بَلَغَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسِينَ جَمَّعَ بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</p>
<p>“<em>Berapa jumlah orang yang diwajibkan shalat jama’ah?</em>” Abu Hurairah menjawab, ”<em>Ketika sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berjumlah lima puluh, Rasulullah mengadakan shalat Jum’at</em>” (Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni 2: 171). Al Baihaqi berkata, ”Telah diriwayatkan dalam permasalahan ini hadits tentang jumlah lima puluh, namun isnadnya <strong><em>tidak shahih</em></strong>.” (Sunan Al Kubra, 3: 255).</p>
<h4><span style="color: #800080;"><strong>Pendapat Terkuat</strong></span></h4>
<p>Perlu diperhatikan bahwa jumlah jama’ah yang menjadi syarat sah Jum’at diperselisihkan oleh para ulama sebagaimana penjelasan di atas. Namun jumlah jamak itu menjadi syarat sah shalat Jum’at berdasarkan ijma’ (kata sepakat ulama) (Lihat Syarh ‘Umdatul Fiqh, Prof. Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, 1: 396). Berapakah minimal jamak? Ada yang mengatakan dua dan mayoritas ulama menyatakan minimal jamak adalah tiga (Lihat catatan kaki Syarh ‘Umdatul Fiqh, 1: 396).</p>
<p>Asy Syaukani <em>rahimahullah</em> berkata, “Shalat Jum’at adalah seperti shalat jama’ah lainnya. Yang membedakannya adalah adanya khutbah sebelumnya. Selain itu tidak ada dalil yang menyatakan bahwa shalat juma’at itu berbeda. Perkataan ini adalah sanggahan untuk pendapat yang menyatakan bahwa shalat Jum’at disyaratkan dihadiri imam besar, dilakukan di negeri yang memiliki masjid Jaami’, dan dihadiri oleh jumlah jama’ah tertentu. Persyaratan ini tidak memiliki dalil pendukung yang menunjukkan sunnahnya, apalagi wajibnya dan lebih-lebih lagi dinyatakan sebagai syarat.  <strong>Bahkan jika ada dua orang melakukan shalat Jum’at di suatu tempat yang tidak ada jama’ah lainnya, maka mereka berarti telah memenuhi kewajiban</strong>.” (Ad Daroril Mudhiyyah Syarh Ad Durorul Bahiyyah, 163)</p>
<p style="text-align: left;" align="center"><em>Wallahu a’lam bish showwab. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.</em></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah/' rel='bookmark' title='Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah'>Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/keutamaan-sedekah-di-hari-jumat/' rel='bookmark' title='Keutamaan Sedekah di Hari Jumat'>Keutamaan Sedekah di Hari Jumat</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-jumat/' rel='bookmark' title='Shalat Jum&#8217;at'>Shalat Jum&#8217;at</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-shalat-sunnat-yang-ditunaikan-sehari-hari/' rel='bookmark' title='SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI'>SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/risalah-penting-untuk-para-jamaah-haji/' rel='bookmark' title='RISALAH PENTING UNTUK PARA JAMAAH HAJI'>RISALAH PENTING UNTUK PARA JAMAAH HAJI</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/sudah-tidak-diganggu-haruskah-berjilbab/' rel='bookmark' title='Sudah Tidak Diganggu Haruskah Berjilbab?'>Sudah Tidak Diganggu Haruskah Berjilbab?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/jumlah-jamaah-shalat-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat-Kiat Menuju Pelaminan</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-kiat-menuju-pelaminan/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-kiat-menuju-pelaminan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 08:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslim dan Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Petunjuk dan Saran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=967</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-kiat-menuju-pelaminan/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/01/al-quran.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-968" title="al-quran" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/01/al-quran.jpg" alt="" width="459" height="337" /></a></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah <em>Ta’ala</em>. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah <em>Azza Wa Jalla</em>. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah <em>Azza Wa Jalla</em> berfirman yang artinya: <em>“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula”</em> [QS. An Nur: 26]. Yaitu dengan berbenah diri, berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dilakukannya kemudian menambah ketaatan kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sedangkan manusia jenis kedua menjawab: “Ah saya sih ndak mau yang terlalu alim” atau semacam itu. Inilah seorang muslim yang telah keluar dari fitrahnya yang bersih, karena sudah terlalu dalam berkubang dalam kemaksiatan sehingga ia melupakan Allah <em>Ta’ala</em>, melupakan kepastian akan datangnya hari akhir, melupakan kerasnya siksa neraka. Yang ada di benaknya hanya kebahagiaan dunia semata dan enggan menggapai kebahagiaan akhirat. Kita khawatir orang-orang semacam inilah yang dikatakan oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> sebagai orang yang enggan masuk surga. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: <em>“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”</em>. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’. Beliau bersabda: <em>“Yang taat kepadaku akan masuk surga dan yang ingkar terhadapku maka ia enggan masuk surga”</em> [HR. Bukhari 6737]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Seorang istri atau suami adalah teman sejati dalam hidup dalam waktu yang sangat lama bahkan mungkin seumur hidupnya. Musibah apa yang lebih besar daripada seorang insan yang seumur hidup ditemani oleh orang yang gemar mendurhakai Allah dan Rasul-Nya? Padahal Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bersabda: <em>“Keadaan agama seorang insan tergantung pada keadaan agama teman dekatnya. Maka sudah sepatutnya kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat”</em> [HR. Ahmad 8065, Abu Dawud 4193. Dihasankan oleh Al Albani]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Bekali Diri Dengan Ilmu</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ilmu adalah bekal penting bagi seseorang yang ingin sukses dalam pernikahannya dan ingin membangun keluarga Islami yang samara. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama tentunya. Secara umum, seseorang perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, minimal ilmu-ilmu agama yang wajib bagi setiap muslim. Seperti ilmu tentang aqidah yang benar, tentang tauhid, ilmu tentang syirik, tentang wudhu, tentang shalat, tentang puasa, dan ilmu yang lain, yang jika ilmu-ilmu wajib ini belum dikuasai maka seseorang dikatakan belum benar keislamannya. Lebih baik lagi jika membekali diri dengan ilmu agama lainnya seperti ilmu hadits, tafsir al Qur’an, Fiqih, Ushul Fiqh karena tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Renungkanlah firman Allah <em>Ta’ala</em>, yang artinya: <em>“Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”</em> [QS. Al Mujadalah: 11]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Secara khusus, ilmu yang penting untuk menjadi bekal adalah ilmu tentang pernikahan. Tata cara pernikahan yang syar’i, syarat-syarat pernikahan, macam-macam mahram, sunnah-sunnah dalam pernikahan, hal-hal yang perlu dihindari, dan yang lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Siapkan Harta Dan Rencana</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Tidak dapat dipungkiri bahwa pernikahan membutuhkan kemampuan harta. Minimal untuk dapat memenuhi beberapa kewajiban yang menyertainya, seperti mahar, mengadakan walimah dan kewajiban memberi nafkah kepada istri serta anak-anak. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: <em>“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”</em> [HR. Ahmad 6527, Abu Dawud 1442].</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Namun kebutuhan akan harta ini jangan sampai dijadikan pokok utama sampai-sampai membuat seseorang tertunda atau terhalang untuk menikah karena belum banyak harta. Harta yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (mensyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: <em>“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”</em> [HR. Bukhari 5955].</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Disamping itu, terdapat larangan bermewah-mewah dalam mahar dan terdapat teladan menyederhanakan walimah. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: <em>“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya”</em> [HR. Ahmad 23388]. Beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga, berdasarkan hadits Anas Bin Malik <em>Radhiyallahu’anhu</em>, ketika menikahi Zainab Bintu Jahsy mengadakan walimah hanya dengan menyembelih seekor kambing [HR. Bukhari 4770, Muslim 2569].</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Selain itu rumah tangga bak sebuah organisasi, perlu manajemen yang baik agar dapat berjalan lancar. Maka hendaknya bagi seseorang yang hendak menikah untuk membuat perencanaan matang bagi rumah tangganya kelak. Misalnya berkaitan dengan tempat tinggal, pekerjaan, dll.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Pilihlah Dengan Baik</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> bersabda : <em>“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius : nikah, cerai dan ruju’ ”</em> (HR. Abu Daud 2194). Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Kriteria yang paling utama adalah agama yang baik. Setiap muslim atau muslimah yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami atau istri yang baik agamanya, ia memahami aqidah Islam yang benar, ia menegakkan shalat, senantiasa mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> menganjurkan memilih istri yang baik agamanya <em>“Wanita dikawini karena empat hal : ……. hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”</em>. [HR. Bukhari 4700, Muslim 2661]. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga mengancam orang yang menolak lamaran dari seorang lelaki shalih <em>“Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi”</em> [HR. Tirmidzi 1005, Ibnu Majah 1957].</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Selain itu ada beberapa kriteria lainnya yang juga dapat menjadi pertimbangan untuk memilih calon istri atau suami:</span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #000080;">Sebaiknya ia berasal dari keluarga yang baik nasabnya (bukan keluarga pezina atau ahli maksiat)</span></li>
<li><span style="color: #000080;">Sebaiknya ia sekufu. Sekufu maksudnya tidak jauh berbeda kondisi agama, nasab dan kemerdekaan dan kekayaannya</span></li>
<li><span style="color: #000080;">Gadis lebih diutamakan dari pada janda</span></li>
<li><span style="color: #000080;">Subur (mampu menghasilkan keturunan)</span></li>
<li><span style="color: #000080;">Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> bersabda: <em>“Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika engkau pandang…” </em>[HR. Ahmad 9281]</span></li>
<li><span style="color: #000080;">Hendaknya calon istri memahami wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf</span></li>
<li><span style="color: #000080;">Hendaknya calon istri adalah wanita yang mengaja auratnya dan menjaga dirinya dari lelaki non-mahram.</span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Shalat Istikharah Agar Lebih Mantap</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Pentingnya urusan memilih calon pasangan, membuat seseorang layak untuk bersungguh-sungguh dalam hal ini. Selain melakukan usaha, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah <em>Azza Wa Jalla</em>. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Dan salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir <em>Radhiyallahu’anhu</em>, ia berkata: “Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur’an” [HR. Bukhari].</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Datangi Si Dia Untuk Nazhor Dan Khitbah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Setelah pilihan telah dijatuhkan, maka langkah selanjutnya adalah Nazhor. Nazhor adalah memandang keadaan fisik wanita yang hendak dilamar, agar keadaan fisik tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan melamar wanita tersebut atau tidak. Terdapat banyak dalil bahwa Islam telah menetapkan adanya Nazhor bagi lelaki yang hendak menikahi seorang wanita. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bersabda: <em>“Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah”</em> [HR. Abu Dawud 1783].</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Namun dalam nazhor disyaratkan beberapa hal yaitu, dilarang dilakukan dengan berduaan namun ditemani oleh mahrom dari sang wanita, kemudian dilarang melihat anggota tubuh yang diharamkan, namun hanya memandang sebatas yang dibolehkan seperti wajah, telapak tangan, atau tinggi badan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalil-dalil tentang adanya nazhor dalam Islam juga mengisyaratkan tentang terlarangnya pacaran. Karena jika calon pengantin sudah melakukan pacaran, tentu tidak ada manfaatnya melakukan Nazhor.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Setelah bulat keputusan maka hendaknya lelaki yang hendak menikah datang kepada wali dari sang wanita untuk melakukan khitbah atau melamar. Islam tidak mendefinisikan ritual atau acara khusus untuk melamar. Namun inti dari melamar adalah meminta persetujuan wali dari sang wanita untuk menikahkan kedua calon pasangan. Karena persetujuan wali dari calon wanita adalah kewajiban dan pernikahan tidak sah tanpanya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: <em>“Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali”</em> [HR. Tirmidzi 1026]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Siapkan Mahar</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah mahar, atau disebut juga mas kawin. Mahar adalah pemberian seorang suami kepada istri yang disebabkan pernikahan. Memberikan mahar dalam pernikahan adalah suatu kewajiban sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em> yang artinya: <em>“Maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban” </em>[QS. An Nisa: 24]. Dan pada hakekatnya mahar adalah ‘hadiah’ untuk sang istri dan mahar merupakan hak istri yang tidak boleh diambil. Dan terdapat anjuran dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> untuk tidak terlalu berlebihan dalam mahar, agar pernikahannya berkah. Sebagaimana telah dibahas di atas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Setelah itu semua dijalani akhirnya sampailah di hari bahagia yang ditunggu-tunggu yaitu hari pernikahan. Dan tali cinta antara dua insan pun diikat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Belum Sanggup Menikah?</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Demikianlah uraian singkat mengenai kiat-kiat bagi seseorang yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nah, lalu bagaimana kiat bagi yang sudah ingin menikah namun belum dimampukan oleh Allah <em>Ta’ala</em>? Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em> berfirman yang artinya: <em>“Orang-orang yang belum mampu menikah hendaknya menjaga kesucian diri mereka sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”</em> [QS. An Nur: 33]. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Yaitu menjaga diri dari yang haram dan menempuh segala sebab yang dapat menjauhkan diri keharaman, yaitu hal-hal yang dapat memalingkan gejolak hati terhadap hal yang haram berupa angan-angan yang dapat dikhawatirkan dapat menjerumuskan dalam keharaman” [<em>Tafsir As Sa’di</em>]. Intinya, Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan orang yang belum mampu untuk menikah untuk bersabar sampai ia mampu kelak. Dan karena dorongan untuk menikah sudah bergejolak mereka diperintahkan untuk menjaga diri agar gejolak tersebut tidak membawa mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga menyarakan kepada orang yang belum mampu untuk menikah untuk banyak berpuasa, karena puasa dapat menjadi tameng dari godaan untuk bermaksiat [HR. Bukhari 4678, Muslim 2485]. Selama masih belum mampu untuk menikah hendaknya ia menyibukkan diri pada hal yang bermanfaat. Karena jika ia lengah sejenak saja dari hal yang bermanfaat, lubang kemaksiatan siap menjerumuskannya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memiliki ucapan emas: “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (<em>Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa Asy Syafi</em>, hal. 109). Kemudian senantiasa berdoa agar Allah memberikan kemampuan untuk segera menikah. <em>Wallahul Musta’an</em>. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333300;"><em>Oleh : Yulian Purnama</em></span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-kiat-agar-selalu-berlapang-dada/' rel='bookmark' title='Kiat-Kiat Agar Selalu Berlapang Dada'>Kiat-Kiat Agar Selalu Berlapang Dada</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-memperlakukan-buah%c2%a0hati/' rel='bookmark' title='Kiat Memperlakukan Buah Hati'>Kiat Memperlakukan Buah Hati</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-meningkatkan-tilawah-di-bulan-ramadhan/' rel='bookmark' title='Kiat Meningkatkan Tilawah di Bulan Ramadhan'>Kiat Meningkatkan Tilawah di Bulan Ramadhan</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-berpegang-teguh-dengan-agama-allah/' rel='bookmark' title='Kiat Berpegang Teguh Dengan Agama Allah'>Kiat Berpegang Teguh Dengan Agama Allah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/kiat-kiat-menuju-pelaminan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilauan Harta Orang Lain</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/kilauan-harta-orang-lain/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/kilauan-harta-orang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 05:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam di ke-seharian]]></category>
		<category><![CDATA[Kepribadian]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Qolbu]]></category>
		<category><![CDATA[rejeki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=965</guid>
		<description><![CDATA[Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil kijang. Jika sudah memiliki mobil kijang, dia ingin mendapatkan mobil sedan. Dan seterusnya sampai pesawat pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/kilauan-harta-orang-lain/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_9887.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-966" title="DSC_9887" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC_9887.jpg" alt="" width="450" height="320" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain. Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih. Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil kijang. Jika sudah memiliki mobil kijang, dia ingin mendapatkan mobil sedan. Dan seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang tidak pernah puas.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Melihat Orang Di Bawah Kita dalam Hal Harta dan Dunia</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sikap seorang muslim yang benar, hendaklah dia selalu melihat orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Betapa banyak orang di bawah kita berada di bawah garis kemiskinan, untuk makan sehari-hari saja mesti mencari utang sana-sini, dan masih banyak di antara mereka keadaan ekonominya jauh di bawah kita. Seharusnya seorang muslim memperhatikan petuah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hal ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Suatu saat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata, <em>“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, [2] beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …”</em><br />
(HR. Ahmad 20447. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.”</em><br />
(HR. Bukhari 6009, Muslim 5263).</p>
<p>Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud dengan <em>al khalq</em> adalah bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi.” (<em>Fathul Bari</em>, 11/32)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Agar Tidak Memandang Remeh Nikmat Allah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dengan memiliki sifat yang mulia ini yaitu selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah dunia, seseorang akan merealisasikan syukur dengan sebenarnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”</em><br />
(HR. Muslim 5264, Tirmidzi 2437, Ibnu Majah 4132, Ahmad 7137)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Al Munawi –<em>rahimahullah</em>- mengatakan, “Jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan melakukan semacam ini, seseorang akan ridho dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridho dan bersyukur atas nikmat Allah padanya.”<br />
(Lihat <em>Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir</em>, 1/573)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Itulah yang akan membuat seseorang tidak memandang remeh nikmat Allah karena dia selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Ketika dia melihat juragan minyak yang memiliki rumah mewah dalam hatinya mungkin terbetik, “Rumahku masih kalah dari rumah juragan minyak itu.” Namun ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, “Ternyata rumah tetangga dibanding dengan rumahku, masih lebih bagus rumahku.” Dengan dia memandang orang di bawahnya, dia tidak akan menganggap remeh nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena dia melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Berbeda dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya memiliki Blackberry, dia merasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh dari temannya tersebut. Akhirnya yang ada pada dirinya adalah kurang mensyukuri nikmat, menganggap bahwa nikmat tersebut masih sedikit, bahkan selalu ada hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan membenci temannya tadi. Padahal masih banyak orang di bawah dirinya yang memiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Inilah cara pandang yang keliru. Namun inilah yang banyak menimpa kebanyakan orang saat ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Dalam Masalah Agama dan Akhirat, Hendaklah Seseorang Melihat Orang Di Atasnya</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam masalah agama, berkebalikan dengan masalah materi dan dunia. Hendaklah seseorang dalam masalah agama dan akhirat selalu memandang orang yang berada di atasnya. Haruslah seseorang memandang bahwa amalan sholeh yang dia lakukan masih kalah jauhnya dibanding para Nabi, shidiqin, syuhada’ dan orang-orang sholeh. Para salafush sholeh sangat bersemangat sekali dalam kebaikan, dalam amalan shalat, puasa, sedekah, membaca Al Qur’an, menuntut ilmu dan amalan lainnya. Haruslah setiap orang memiliki cara pandang semacam ini dalam masalah agama, ketaatan, pendekatan diri pada Allah, juga dalam meraih pahala dan surga. Sikap yang benar, hendaklah seseorang berusaha melakukan kebaikan sebagaimana yang salafush sholeh lakukan. Inilah yang dinamakan berlomba-lomba dalam kebaikan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam masalah berlomba-lomba untuk meraih kenikmatan surga, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”</em> (QS. Al Muthaffifin: 22-26) Al Qurtubhi mengatakan, “Berlomba-lombalah di dunia dalam melakukan amalan shalih.” (<em>At Tadzkiroh Lil Qurtubhi</em>, hal. 578)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dalam ayat lainnya, Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman (yang artinya), <em>“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”</em> (QS. Al Ma’idah: 48) <em>“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”</em> (QS. Ali Imron: 133)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Inilah yang dilakukan oleh para salafush sholeh, mereka selalu berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana dapat dilihat dari perkataan mereka berikut ini yang disebutkan oleh Ibnu Rojab –<em>rahimahullah</em>-. Berikut sebagian perkatan mereka.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.” Wahib bin Al Warid mengatakan, “Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.” Sebagian salaf mengatakan, “Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” (<em>Latho-if Ma’arif</em>, hal. 268)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Namun berbeda dengan kebiasaan orang saat ini. Dalam masalah amalan dan pahala malah mereka membiarkan saudaranya mendahuluinya. Contoh gampangnya adalah dalam mencari shaf pertama. “Monggo pak, bapak aja yang di depan”, kata sebagian orang yang menyuruh saudaranya menduduki shaf pertama. Padahal shaf pertama adalah sebaik-baik shaf bagi laki-laki dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Seandainya seseorang mengetahui keutamaannya, tentu dia akan saling berundi dengan saudaranya untuk memperebutkan shaf pertama dalam shalat, bukan malah menyerahkan shaf yang utama tersebut pada orang lain.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf pertama, sedangkan yang paling jelek bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah shaf terakhir, sedangkan yang paling jelek bagi wanita adalah shaf pertama.” </em><br />
(HR. Muslim 664)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.”</em><br />
(HR. Bukhari 580 dan Muslim 661)</p>
<p>Mari kita saling berlomba dalam meraih surga dan pahala di sisi Allah!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Kekayaan Paling Hakiki adalah Kekayaan Hati </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia agar kita menjadi orang yang bersyukur dan qana’ah yaitu selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah berikan, juga tidak hasad (dengki) dan tidak iri pada orang lain. Karena ketahuilah bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati yaitu hati yang selalu merasa cukup dengan karunia yang diberikan oleh Allah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.”<br />
</em>(HR. Bukhari 5965 dan Muslim 1741).<br />
Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “Kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup).”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda, <em>“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”</em><br />
(HR. Muslim 1746)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Seandainya seseorang mengetahui kenikmatan yang seolah-olah dia mendapatkan dunia seluruhnya, tentu betul-betul dia akan mensyukurinya dan selalu merasa qona’ah (berkecukupan). Kenikmatan tersebut adalah kenikmatan memperoleh makanan untuk hari yang dia jalani saat ini, kenikmatan tempat tinggal dan kenikmatan kesehatan badan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”<br />
</em>(HR. Tirmidzi 2268. Syaikh Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah do’a: <em> “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina)</em><br />
(HR. Muslim  4898)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">An Nawawi –<em>rahimahullah</em>- mengatakan, “<em>Afaf </em>dan <em>‘iffah</em> bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan <em>al ghina</em> adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (<em>Syarh Muslim</em>, 17/41)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Ya Allah, berikanlah pada kami sifat <em>‘afaf</em> dan <em>ghina</em>. <em>Amin Yaa Mujibas Sa’ilin</em>. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #003366;"><em>Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal</em></span></p>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/dialog-allah-swt-dan-malaikat-tentang-orang-orang-yang-berdzikir-dan-berdoa/' rel='bookmark' title='Dialog Allah SWT dan Malaikat tentang Orang-Orang yang Berdzikir dan Berdoa'>Dialog Allah SWT dan Malaikat tentang Orang-Orang yang Berdzikir dan Berdoa</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/memakan-harta-haram/' rel='bookmark' title='MEMAKAN HARTA HARAM'>MEMAKAN HARTA HARAM</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/sifat-orang-orang-yang-beriman/' rel='bookmark' title='Sifat Orang-Orang Yang Beriman'>Sifat Orang-Orang Yang Beriman</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/allah-bersama-orang-yang-sabar/' rel='bookmark' title='Allah Bersama Orang yang Sabar!'>Allah Bersama Orang yang Sabar!</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/hukum-asuransi-jiwa-dan-harta/' rel='bookmark' title='Hukum Asuransi Jiwa Dan Harta'>Hukum Asuransi Jiwa Dan Harta</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya/' rel='bookmark' title='Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya'>Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/kilauan-harta-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Kebangkitan</title>
		<link>http://indonesian.iloveallaah.com/hari-kebangkitan/</link>
		<comments>http://indonesian.iloveallaah.com/hari-kebangkitan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 05:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iloveAllaah.com Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Kemudian]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesian.iloveallaah.com/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat. Hari Kiamat pasti terjadi, akan tetapi tidak ada seorang manusia maupun Malaikat yang tahu kapan terjadinya. Itulah keyakinan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<div id="fb-root"></div>
			<script>
			<!--
			  window.fbAsyncInit = function() {
				FB.init({appId: "224955984185367", status: true, cookie: true, xfbml: true});
			  };
			  (function() {
				var e = document.createElement("script"); e.async = true;
				e.src = document.location.protocol +
				  "//connect.facebook.net/en_US/all.js";
				document.getElementById("fb-root").appendChild(e);
			  }());
			-->
			</script>
			<fb:like href="http://indonesian.iloveallaah.com/hari-kebangkitan/" send="true" layout="standard" width="450" show_faces="false" colorscheme="light" action="like" font="tahoma"></fb:like>
			<!--Facebook Like and Send button by darkomitrovic.com-->
			<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC05641.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-964" title="DSC05641" src="http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/01/DSC05641.jpg" alt="" width="298" height="400" /></a><span style="color: #000080;">Segala puji hanya bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em style="color: #000080;"></em>Hari Kiamat pasti terjadi, akan tetapi tidak ada seorang manusia maupun Malaikat yang tahu kapan terjadinya. Itulah keyakinan yang harus tertanam kuat dalam hati setiap muslim. Manusia yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah <em>Ta’ala, </em>yakni Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>tidak mengetahui kapan terjadinya. Demikian pula Malaikat yang paling mulia dan paling dekat dengan Allah<em> Ta’ala, </em>yakni Malaikat Jibril <em>‘alaihis salam, </em>tidak mengetahuinya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Hari Kiamat Terjadi di Hari Jum’at</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam Surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” </em>(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 854).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Aus bin Aus <em>radhiyallahu ‘anhu </em>bercerita bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Sesungguhnya sebaik-baik hari kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan. Pada hari itu juga Sangsakala ditiup dan petir bergemuruh.”<br />
</em>(HR Abu Dawud 883, Ibnu Majah 1075. Dishahihkan oleh Al-Albani)<em> </em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Peniupan Sangsakala</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Hari kebangkitan dimulai setelah peniupan Sangkakala oleh Malaikat Israfil, atas perintah Allah <em>Ta’ala</em>. Berapa kali sangkakala itu ditiup? Berkaitan dengan masalah ini, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang berapa kali Sangsakala di tiup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsir menyatakan ada tiga kali tiupan. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh ketika beliau menjelaskan kitab <em>al-Aqidah al-Wasithiyah</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa al-Qur‘an mengabarkan tiga kali tiupan. Tiga tiupan sangsakala ini adalah;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>Pertama</em>, ialah tiupan <em>al-faz’u</em> (tiupan yang mengejutkan), sebagaimana disebutkan dalam surat An-Naml ayat 87. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.”</em> (QS. An-Naml: 87)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>Kedua</em>, yaitu tiupan <em>ash-sha’iq</em> (tiupan yang mematikan)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>Ketiga</em>, adalah tiupan <em>qiyam</em> (bangkit). Dua macam tiupan ini terangkum dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala itu ditiup sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannnya masing-masing).”</em> (QS. Az-Zumar: 68).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Inilah tiga kali tiupan yang disampaikan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah <em>rahimahulah</em>. (<em>Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah</em>, 4/260-261).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Sebagian ulama lagi berpendapat ada dua tiupan. Inilah pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin <em>rahimahullah</em>. Tiupan Sangsakala pertama berfungsi sebagai tiupan yang mengejutkan dan membuat pingsan semua makhluk, baik yang di langit maupun di bumi, kecuali yang dikehendaki Allah <em>Ta’ala.</em> Sedangkan tiupan kedua berfungsi untuk membangkitkan semua makhluk dari kuburnya. Setelah tiupan yang kedua ini, bangkitlah manusia dari liang kuburnya untuk menghadap Rabb semesta alam. (<em>Syarhu Lum’at al I’tiqad</em>, Tahqiq Asyraf Abdul Maqsud, hal. 114)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Berapa Jarak Antara Dua Tiupan?</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Jarak antar dua tiupan Sangsakala itu empat puluh.” Lalu para sahabat bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apakah 40 hari?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Apakah 40 bulan?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Apakah 40 tahun?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak tahu.” Kemudian turunlah hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Semua bagian manusia akan hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Dari tulang ekor itulah manusia diciptakan pada hari Kiamat.” </em><br />
(Bukhari 4554, Muslim 5253).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Demikianlah hadits tentang jarak antara tiupan <em>ash-sho’iq</em> (yang mematikan) dan tiupan <em>al-qiyam</em> (kebangkitan). Hadits ini hanya menyebutkan jaraknya adalah empat puluh, tanpa ada penegasan hari, bulan atau tahun. Adapun riwayat yang menegaskan 40 hari adalah riwayat yang lemah. <em>Wallahu Ta’ala a’lam</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Bagian Tubuh Manusia Yang Tidak Dimakan Tanah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Seluruh tubuh manusia akan hancur dimakan tanah, kecuali yang dikehendaki Allah <em>Ta’ala</em>. Adapun yang tidak hancur dimakan tanah adalah</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>1. Jasad para Nabi</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan tanah memakan jasad para Nabi.”<br />
</em>(HR. Abu Dawud 883, Ibnu Majah 1075. Dishahihkan oleh Al-Albani).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>2. Tubuh para syuhada</em> (orang yang meninggal <em>jihad fi sabilillah</em>). Jabir bin Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah menggali makam ayahnya yang mati dalam perang Uhud. Ayahnya dimakamkan bersama orang lain dalam satu liang. Kemudian ia merasa kurang senang membiarkan beliau bersama yang lain dalam satu kuburan. Maka kuburannya digali setelah setelah enam bulan. Ternyata, keadaan ayahnya masih sama seperti saat dikuburkan, kecuali telinganya.<br />
(HR. Bukhari 1264).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>3. Tulang ekor manusia</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Sesungguhnya pada diri manusia ada satu tulang yang tidak dimakan tanah selamanya. Padanya manusia disusun (kembali) pada hari Kiamat”. Para sahabat bertanya, “Tulang apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tulang ekor.”</em><br />
(HR. Muslim 5255)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em>4. Ruh manusia</em>. Meskipun ruh manusia adalah makhluk, namun ia tidak akan punah. (<em>Syarah Al-Aqidah Al-Safariniyah</em>, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Mani’, hal. 212)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><strong>Keadaan Manusia Ketika Dibangkitkan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Setelah tiupan <em>ash-sha’iq</em> (tiupan yang mematikan), maka matilah yang di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah <em>Ta’ala</em>. Lalu Allah <em>Ta’ala</em> menurunkan hujan yang membasahi bumi dan menumbuhkan jasad manusia dari tulang ekornya. Jasad-jasad manusia ini tumbuh seperti tumbuhnya sayuran yang disirami hujan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Dan Rabb yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”</em> (QS. Zukhruf: 11)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Kemudian Allah menurunkan hujan bagaikan gerimis atau awan. Maka tumbuhlah darinya jasad-jasad manusia. Kemudian ditiup kembali Sangsakala untuk kedua kalinya, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan masing-masing).”<br />
</em>(HR. Muslim 5233)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberitahu umatnya bahwasanya mereka akan dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan, lalu dikumpulkan di padang Mahsyar. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan menuju Allah Ta’ala dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.”<br />
</em>(HR. Bukhari 3349, Muslim 2860)</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> bertanya<em>, “Apakah laki-laki dan wanita saling melihat satu sama lain?” </em>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjawab:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;"><em> “Keadaannya jauh lebih berat dari sekedar melihat satu sama lain.”<br />
</em>(HR. Muslim 5102). </span></p>
<p style="text-align: justify;">
<h6 style="text-align: justify;"><span style="color: #003300;"><em>Oleh : dr. Muhaimin Ashuri</em></span></h6>
<p style="text-align: justify;">
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/surat-al-kahfi-pada-hari-jumat/' rel='bookmark' title='Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at'>Surat Al-Kahfi pada Hari Jum&#8217;at</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/tanda-tanda-hari-kiyamat-besar-dan-kecil/' rel='bookmark' title='Tanda-Tanda Hari Kiyamat Besar dan Kecil'>Tanda-Tanda Hari Kiyamat Besar dan Kecil</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah/' rel='bookmark' title='Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah'>Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/peringatan-terhadap-huru-hara-hari-kiyamat/' rel='bookmark' title='Peringatan Terhadap Huru-Hara Hari Kiyamat'>Peringatan Terhadap Huru-Hara Hari Kiyamat</a></li>
<li><a href='http://indonesian.iloveallaah.com/shalat-shalat-sunnat-yang-ditunaikan-sehari-hari/' rel='bookmark' title='SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI'>SHALAT-SHALAT SUNNAT YANG DITUNAIKAN SEHARI-HARI</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesian.iloveallaah.com/hari-kebangkitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching using disk: basic
Object Caching 3285/3405 objects using disk: basic

Served from: indonesian.iloveallaah.com @ 2012-03-01 06:21:52 -->
