Sumber Data Otentik Keseluruhan Material Islami dalam Bahasa Indonesia

Refleksi Kehidupan Salafushaleh Dalam Berinteraksi dengan Ayat-ayat al-Quran


Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya

Sungguh generasi pendahulu kita dengan sadar telah menikmati sensasi ayat-ayat al-Quran dan sunah Nabi.  Mereka mengamalkannya dalam praktek keseharian. Kehidupan di luar masjid tidak membuat mereka tidak menjalankannya. Mereka tidak memisahkan dan menjadikan aktivitas kehidupan amaliah (duniawi) sebagai satu sisi dan agama pada sisi yang lain, tetapi keduanya saling melengkapi. Interaksi mereka dengan ayat-ayat qurâni dan sunah nawabi nampak dalam aktivitas gerak dan diam mereka.

Abdullah Ibn Umar respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa,

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)

Ketika mendapatkan sesuatu yang amat disukainya pada hartanya, serta-merta ia jadikan harta itu sebagai taqarub (pendekat) kepada Allah subhanahu wa ta'alaa.

Budak-budak Ibnu Umar menyadari hal itu. Hingga salah seorang di antara mereka ada yang sengaja berdiam diri di masjid. Ketika Ibnu Umar melihatnya dalam keadaan demikian, diapun memerdekakan budak itu. Atas sikapnya itu, sebagian orang ada yang berkata kepadanya,

“Budak-budak itu hanya menipumu!”

Ibnu Umar menjawab:

“Siapa yang menipu kami untuk Allah, kami akan membiarkan seolah kami tertipu untuknya.” .

Ibnu Umar memiliki budak perempuan yang begitu disayanginya. Tetapi diapun memerdekakan budak itu dan menikahkannya dengan Nâfi’, budak yang juga telah dimerdekakannya sebelumnya.

Ibnu Umar berkata:

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)

Pernah Ibnu Umar membeli unta jantan dan merasa takjub ketika menungganginya. Diapun berkata kepada ajudannya:

“Wahai Nâfi’, jadikan unta ini sebagai sedekah.”

Pada kesempatan yang lain, Ibnu Ja’far (seorang saudagar) ingin membeli Nafi’, budak lelaki Ibnu Umar sebesar 10.000 dirham atau lebih dari itu. Ibnu Umar berkata:

“Aku telah memerdekakannya, dia bebas untuk Allah.”

Pada waktu yang lain Ibnu Umar membeli seorang budak dengan harga 40.000 dirham kemudian dimerdekakannya. Setelah dimerdekakan budak itupun berkata:

“Wahai tuanku, engkau telah memerdekakanku, maka berilah aku sesuatu agar aku bisa hidup.”

Ibnu Umar pun memberinya 40.000 dirham.

Pada waktu yang lain Ibnu Umar membeli 5 orang budak. Manakala dia sedang shalat kelima budak itu turut shalat di belakangnya. Ibnu Umarpun bertanya kepada mereka:

“Untuk siapa kalian melakukan shalat ini?”

“Untuk Allah!” Jawab mereka.

Mendengar jawaban mereka Ibnu Umar berkata:

“Kalian merdeka untuk Dia yang kalian shalat kepada-Nya.” Ibnu Umarpun memerdekakan mereka semua.

[Al-bidayah wa an-Nihayah 6/9]

Ayat:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)

Jika dipraktekkan di era kita sekarang ini, maka tidak akan lagi ditemukan seorang miskin atau terlantar pun di tengah masyarakat muslim, walau hanya 10% saja dari mereka yang mempraktekkannya.

*****

Ali Ibn al-Husain respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS.Ali Imran:134)

Abdurrazzak berkata,

“Budak perempuan Ali Ibn al-Husain menuangkan air kepada Ali untuk berwudhu, tetapi bejana yang dipegangnya terlepas dari tangannya sehingga mengenai wajah Ali. Diapun mendongak (menatap tajam) kepada budaknya itu. Maka berkatalah budak perempuan itu menyitir ayat dalam surat Ali Imran:

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:

“…dan orang-orang yang menahan amarahnya..”

“Aku telah menahan amarahku.” Jawab Ali.

“...dan memaafkan (kesalahan) orang...”

lanjut budak perempuan itu.

“Semoga Allah mengampunimu.” Jawab Ali.

“...Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan...”

Mengakhiri ayat 134 dari surat Ali Imran yang dibacanya.

“Kini engkau aku merdekakan semata karena Allah.” Ungkap Ali.

[Al-Mushannif Abdurrazzaq no.8317]

 

* * * * *

Umar Ibn Abdul Aziz respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Sesungguhnya pelindungku ialahlah yang telah menurunkan Al kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS.al-A’râf: 196)

Dikatakan kepada Umar Ibn Abdul Aziz[1] ketika berada dalam pembaringan menjelang kematiannya:

“Mereka anak-anakmu  (yang berjumlah 12), tidakkah engkau berwasiat kepada mereka dengan sesuatu, sesungguhnya mereka itu fakir.”

Umar menjawab:

“Sesungguhnya wali (pengayom)ku adalah Allah yang telah menurunkan al-kitab (al-Quran) dan dia pula yang akan mengayomi orang-orang yang saleh. Demi Allah, aku tidak akan memberikan hak orang lain kepada mereka. Mereka ada di antara dua keadaan orang; orang yang saleh, maka Allah akan menjadi pengayomnya, atau bukan orang saleh, maka aku tidak akan membantu kefasikan (perbuatan dosanya) dengan memberinya harta. Aku sendiri tidak peduli pada posisi mana pengakhiran mereka. Aku tidak akan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang dapat digunakan bermaksiat kepada Allah sehingga aku menjadi sekutunya setelah kematianku.”

Kemudian dia memanggil anak-anaknya untuk mengucapkan perpisahan seraya berpesan dengan apa yang telah menjadi prinsipnya itu, lalu berkata:

“Pergilah kalian semua, Allah akan menjaga kalian dan akan memperbaiki keadaan kalian setelah ini. ”  Pesan Umar.

Orang-orang berkata (setelah kematian Umar):

“Kami mendapati di antara anak-anak Umar Ibn Abdul Aziz ada yang membawa 80 ekor kuda untuk digunakan berperang dijalan Allah. Sedangkan di antara putra Sulaiman Ibn Abdul Mâlik[2], meskipun banyak harta yang ditinggalkan untuk anak-anaknya (tapi pada akhirnya) datang dan meminta kepada anak-anak Umar Ibn Abdul Aziz. Yang demikian karena Umar mewakilkan anaknya kepada Allah U sedangkan Sulaiman dan penguasa lainnya menggantungkan anak-anak mereka pada apa yang diberikan, sehingga habis dan lenyaplah harta itu untuk memuaskan hawa nafsu anak-anak mereka.

[kitab: Al-Bidayah wa an-Nihaya 9/218.]

Dengan satu ayat Umar Ibn Abdul Aziz mengejawantahkan ayat tersebut dalam urusan hak anak-anaknya sehingga Allah jaga mereka dengan izin-Nya. Bahkan bukan hanya itu, Allah gabungkan untuk mereka kebaikan dunia dan akhirat.

Bukankah sudah seharusnya kaum muslimin menyadari betapa pentingnya mendidik anak keturunan yang sesuai dengan sudut pandang Islam.

* * * * *

Penyair pun memiliki bagian dalam memahami al-Quran dan sunah serta bagaimana mereka berinteraksi dengan nas-nas keduanya dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari.

Farzadaq, seorang penyair respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu.” (QS.al-Anbiya: 79)

Dikabarkan bahwa al-Walid[3] mengirim utusan kepada raja Romawi meminta dikirimi ahli-ahli bangunan, baik ahli marmer dan yang lainnya, untuk membantu membuatkan bangunan Masjid Umawi di Damaskus sesuai keinginannya. Maka raja Romawi pun mengirim banyak ahli bangunan sekitar 200 tukang seraya menulis surat kepadanya, yang isinya:

“Jika ayahmu tahu apa yang kamu lakukan dan membiarkan saja sungguh itu adalah cela bagimu. Jika dia tidak memahaminya sedang engkau memahaminya, sungguh itu adalah cela baginya.”

Ketika kiriman raja Romawi sampai kepada Walid, dia ingin membalas surat itu. Maka berkumpullah orang-orang untuk membahasnya. Di antara mereka ada Farzadaq, seorang penyair, dia berkata:

“Aku yang akan menjawabnya dari kitabullah, wahai Amirul mukminin."

“Apa itu?” Tanya Walid

“Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu.” (QS.al-Anbiya:79)

Sulaiman adalah putra Daud. Allah memberinya kefahaman apa yang tidak diberikan kepada ayahnya.” Jelas Farzadaq.

Jawaban Farzadaq membuat Walid salut. Maka Walidpun mengirim jawaban itu kepada Raja Romawi. Farzadak mengatakan hal itu dalam syairnya:

Aku pisahkan antara Nasrani di gereja-gereja mereka

Antara ahli ibadah, tukang sihir dan ternak

Mereka semua jika sembahyang wajahnya berbeda-beda

Ada yang sujud kepada Allah atau kepada patung

Bagaimana mungkin berkumpul pemukul lonceng ahli salib

Dengan para pembaca al-Quran yang tidak tidur

Aku pahami masalahannya seperti pemahaman Daud dan Sulaiman

Yang mengadili orang-orang pada kebun dan ternak

....

[al-Bidayah wa an-Nihayah 9/153]

* * * * *

Abdul Malik bin Marwan, yang telah banyak menaklukkan negeri-negeri  di berbagai penjuru dan menjadikannya daulah islamiah pada zamannya, ketika terbaring menyongsong kematiannya respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya.” (QS. Al-An’âm: 94)

Abu Mashar berkata:

“Ditanyakan kepada Abdul Malik di saat sakit menjelang kematiannya:

“Apa yang engkau rasakan?”

“Aku mendapatkan diriku sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'alaa firmankan:

“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)." (QS. Al-An’âm: 94)

“Seandainya aku seorang tukang cuci yang hidup dari hasil tanganku sendiri.” Sesalnya.

Ketika berita menjelang kematian Abdul Malik tersebut sampai kepada Sa’id Ibn al-Musayib[4], dia berkata:

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan pada akhir kematiannya mendekat kepada kami (kepada akhirat), bukan kita yang mendekat kepadanya (kepada dunia).”

[Lihat: al-Kamil fi at-Tarikh, peristiwa tahun 86H jilid 3]

* * * * *

Kepada para hakim dari umat ini –kebanyakan mereka menjauhi kebenaran dan berpaling- aku beritakan apa yang dilakukan oleh al-Mahdi, khalifah al-Abâsi yang berhukum dengan adil dan respek dengan ayat al-Quran yang mulia.

Al-Khatib meriwayatkan:

"Seorang lelaki meminta bantuan kepada al-Mahdi untuk mengadili dirinya dan lawan sengketanya. Al-Mahdipun mengadili mereka dengan adil. Sehingga lelaki itupun memuji dalam bait-bait syair:

Engkau mengadilinya dan membuat keputusan

Seperti terang benderangnya bulan purnama

Tidak menerima suap dalam pengadilan hukummu

Tidak peduli kekecewaan mereka yang merugi

Al-Mahdi berkata mengomentari bait-bait syair lelaki itu:

“Adapun engkau wahai kisanak, semoga Allah menjadikan baik ucapanmu dan aku tidak terlena dengan apa yang engkau katakan. Adapun aku, tidaklah aku duduk di majelisku ini hingga membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS.al-Anbiya:47)

Orang-orang yang ada di majelis menangis. Belum pernah terlihat orang menangis lebih banyak dari hari itu sebelumnya.

[Lihat kitab: al-Kâmil fi at-Târikh, kejadian tahun 256H jilid 4]

* * * * *

Maimun bin Mahrân respek dengan ayat dari kitab Allah subhanahu wa ta'alaa.

Umar, putra Maimun berkata:

“Aku keluar bersama ayahku menyusuri bangunan dan jalan-jalan Bashroh. Ketika melewati parit, syaikh (ayahku) tidak dapat melampauinya, sehingga akupun merebahkan tubuhku agar beliau dapat melintas menaikiku. Diapun melintas menaiki punggungku, setelah itu akupun berdiri dan memegang tangannya hingga tibalah kami di rumah al-Hasan. Akupun mengetuk pintu rumah al-Hasan. Tidak lama berselang keluarlah seorang budak wanita dan berkata:

“Siapa yang datang?”

“Ini adalah Maimun Ibn Mahran, ingin bertemu dengan al-Hasan.” Jawabku.

“Apakah Maimun juru tulis (sekretaris) Umar Ibn Abdul Aziz?!” tanyanya lagi.

“Ya.” Jawabku lagi.

“Alangkah menyedihkannya, engkau masih hidup pada zaman yang penuh dengan keburukan sekarang ini.”  Ujar budak wanita itu.

Syaikh menangis mendengarnya, hingga al-Hasanpun keluar karena mendengar tangisan itu, lalu mereka saling berangkulan, kemudian masuk. Maimun bekata:

“Wahai Abu Sa’id[5], sungguh aku galau dengan kerasnya hatiku, karenanya lembutkanlah ia.”

Al-Hasanpun membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa:

“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.as-Syu’arâ’: 205-207)

Mendengar itu Maimun langsung jatuh pingsan. Aku melihat kedua kakinya saling bergesekan seperti biri-biri yang disembelih. Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama. Kemudian datanglah budak perempuan tadi dan berkata:

“Kalian telah membuat al-Hasan lelah. Tinggalkanlah dia agar beristirahat.”

Akupun memegang tangan ayahku lalu keluar. Aku katakan kepada ayahku:

“Wahai ayah, apakah dia al-Hasan.”

“Ya.” Jawab ayahku.

“Aku mengira ia lebih hebat dari ini[6].”

Ayahku menepuk dadaku seraya berkata:

“Wahai anakku, telah dibacakan kepada kita ayat yang jika engkau memahaminya dengan hatimu sungguh engkau akan merasakan adanya kepedihan.”

[Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah 9/327]

* * * * *

Al-Hajjaj Ibn Yusuf ats-Tsaqofi adalah sosok yang zalim dan bengis. Hanya saja dia begitu sensitif dengan ayat-ayat al-Quran, respek dan mendahulukan firman Allah U dibanding perkataan yang lain.

Al-Haitsam Ibn Adi berkata:

“Datang seorang lelaki kepada al-Hajjaj dan berkata:

“Sesungguhnya saudara laki-lakiku keluar bersama Ibnu al-Asy’ab[7], sehingga namaku dihapus dari daftar, tidak mendapat bantuan dan tempat tinggalku digusur.”

Al-Hajjaj berkata:

“Tidakkah engkau mendengar ungkapan syair:

Harapanmu kepada orang yang menyakitimu

Tak ubahnya menjadikan kesehatan yang berkah menjadi kusta

Bisa jadi seorang itu di hukum karena kesalahan orang dekatnya

Sedangkan pelakunya selamat dari dosa yang dilakukannya

 

Lelaki itupun menjawab:

"Wahai amir, sungguh aku mendengar firman Allah I tidak seperti syair yang telah engkau bacakan tadi, dan firman Allah I lebih benar.”

"Apa yang Allah firmankan?" Tanya al-Hajjaj.

Lelaki itu membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa dalam surat Yusuf:

"Mereka berkata: "Wahai Al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik". Yusuf berkata: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, Maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim". (QS. Yusuf: 78-79)

Al-Hajjaj langsung merespons firman Allah itu dan berkata kepada bawahannya:

"Wahai ghulam, masukkan kembali namanya ke dalam daftar, bangun kembali tempat tinggalnya dan beri dia apa yang berhak diterimanya. Panggil juru penyeru untuk menyerukan bahwa Allah-lah yang benar dan penyair itu salah."

[ Al-Bidayah wa An-Nihayah  9/130]

* * * * *

Akan tetapi respons yang menjurus pada kebinasaan jiwa adalah tertolak. Sekalipun dalam catatan sejarah kita ada orang-orang yang begitu sensitif dan merespons ayat-ayat al-Quran sehingga menjadi penutup kehidupan mereka. Yang demikian itu menyelisihi sunah Nabi sallaahu alayhi wassalam.

Zurarah Ibn Aufa Ibn Hajib al-Âmiri adalah hakim di Bashroh. Dia termasuk ulama besar Bashrah. Kisah mengenai riwayat dirinya banyak sekali. Suatu saat ketika mengimami shalat subuh dia membaca surat al-Mudatsir. Ketika sampai kepada ayat:

"Apabila ditiup sangkakala.." (QS.al-Mudatsir: 8 )

Seketika itu pula ia menemui ajalnya.

[Kitab: Al-'Ibar Fi khabarin man ghabar (Pelajaran mengenai berita bagi yang tidak tahu)]

* * * * *

Ya'kub al-Kûfi seorang yang zuhud (sederhana) lagi ahli ibadah juga meninggal ketika mendengarkan ayat al-Quran.

Ali Ibn al-Muwaffaq berkata bahwa Manshur Ibn Ammar berkata:

"Pada suatu malam aku keluar (ke masjid) yang aku kira waktu subuh sudah masuk, tapi ternyata masih malam. Akupun bergegas duduk di pintu kecil masjid. Ternyata ada seorang pemuda yang tengah menangis sambil berujar:

"Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, bukan maksud memaksiati-Mu ingin menyelisihi-Mu, akan tetapi jiwaku memaksaku, kesusahanku mengalahkanku dan tabir dosaku yang Kau tutupi telah menipuku. Sekarang siapa yang akan menyelamatkanku dari azab-Mu. Tali siapa yang dapat menghubungkanku kepada-Mu jika Engkau telah memutus tali penghubung itu dariku. Oh, sesal atas apa yang telah berlalu dari hari-hari memaksiati Tuhan-ku. Celaka aku, sudah berapa kali aku bertobat dan berapa kali pula aku mengulanginya. Kini telah tiba saatnya bagiku untuk malu kepada Tuhan-ku subhanahu wa ta'alaa."

Mendengar ujaran pemuda itu spontan Manshur berkata:

"Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS.at-Tahrim: 6)

Selesai itu aku mendengar pekikan dan kepanikan yang sangat. Tapi kemudian aku meniggalkan tempat itu untuk satu keperluan. Ketika kembali dan melintasi pintu itu aku lihat sesosok jenazah tergolek di sana. Ketika aku tanyakan jenazah siapakah itu, ternyata pemuda tadi telah wafat setelah mendengar ayat yang aku bacakan."

[kitab Al-Bidâyah wa an-Nihâyah 10/185]

* * * * *

Nabi r sendiri ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, beliau tersentuh dan respek sehingga keluarlah air matanya dan menangis, tetapi tidak lebih dari itu, selain juga semakin bertambah takut, khawatir, harap dan tunduknya kepada Tuhan-nya Y. Adapun peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi dalam catatan sejarah umat ini, di mana mereka meninggal setelah mendengar ayat-ayat al-Quran adalah menyelisihi manhajul islam (metodologi islam).

* * * * *

Sa'id Ibn Abi Waqqôs sang penakluk negeri-negeri, yang di antaranya adalah kekaisaran Faris[8]. Ketika mereka berhasil merebut istana, dia menjadikan majelis istana sebagai mushola (tempat shalat). Ketika memasukinya ia membaca firman Allah:

"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh."

(QS. Ad-Dukhôn: 25-29)

Aku katakan kepada hakim-hakim kaum muslimin; kapan kita memasuk Paris, Wina, Wasingthon dan London seraya mengatakan:

"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh." (QS. Ad-Dukhôn: 25-29)

Mereka adalah generasi yang menaklukkan dunia dengan segala isinya. Dahulu al-Quran dan sunah mengalir dalam darah mereka, yang bercampur dengan daging dan lemak. Adapun sekarang, engkau tidak mendapati seorang hakim atau terpidana pun –selain yang dirahmati Allah- paham terhadap kitab Allah (al-Quran) atau respek dengan suber hukum itu dalam praktek kehidupan mereka. Innalillah wa inna ilaihi rojiun.

Aku meminta kepada Allah yang Mahaagung, Tuhan Arsy yang agung agar mengutus kepada kita manusia-manusia teladan seperti mereka, yang akan mengembalikan kemuliaan yang telah kita abaikan, dan memudahkan tegaknya daulah islamiah di muka bumi.

 

Wallahu A'lam.

Imâd Hasan Abu al-‘Ainain


[1] Khalifah Umawiah (pemimpin pemerintahahan Islam) pada tahun 99H -101H-pent.

[2] Khalifah Umawiah (pemimpin pemerintahahan Islam) pada tahun 96H-99H -pent.

[3] Al-Walid putra dari Abdul Malik Ibn Marwan, salah satu khalifah Umawiah pada tahun 73H-86H.

[4] Salah seorang ulama besar pada masanya.

[5] Kunyah atau panggilan dari al-Hasan, ulama besar di masa itu dari generasi Atba At-Tabi’in.

[6] Maksudnya bahwa sebagai seorang ulama al-Hasan tidak banyak bicara saat kunjungan mereka, tetapi hanya membacakan beberapa ayat al-Quran saja.

[7] Yang dianggap berseberangan dengan penguasa -pent.

[8] Negara Iran saat ini.

 



*Report a broken link or spelling mistake

Stay Connected With Free Updates

If you cannot visit this site everyday and would like to receive our articles everyday via email, please enter your email address below!

Related Posts with Thumbnails

Related posts:

  1. Tidak Beriman pada Akhirat, RUGI!! (Tafsir an-Naml ayat 1-5)
  2. Cara Praktis Menghafal Al Quran
  3. Kehidupan Sehari-Hari Yang Islami

Tagged as: ,
LiveZilla Live Help